Gereja Bethel Indonesia

Posted on Mei 9, 2010 oleh

7


GbiAlamat
Graha Bethel Indonesia, Jl. Jend.A.Yani No.65
Cempaka Putih – Jakarta Pusat
Telp.021-420.6330; 428.03664; Fax. 4280.3786
Email: bpsgbi@cbn.net.id
Website: http://www.sinodegbi.org

Kantor Sinode


STATISTIK
Denominasi gereja: Pentakostal
Jumlah wilayah pelayanan:
Jumlah jemaat: 5046 gereja.
Jumlah anggota jemaat: 2.245.893 jiwa
Jumlah hamba Tuhan: 15.000 orang.

BADAN PEKERJA HARIAN
Ketua Umum : Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA.
Sekretaris Umum : Pdt. H. Ferry Haurissa K, STh.
Bendahara Umum :Pdt. Arjiwanto Tjokro

TENTANG GEREJA
Gereja Bethel Indonesia
, disingkat GBI, adalah salah satu sinode gereja di Indonesia yang bernaung di bawah PGI. Selain PGI, GBI juga merupakan anggota dari Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) dan Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII).

Misi Umum Gereja Bethel Indonesia

MEMBERIKAN KABAR KESELAMATAN KEPADA SEGALA BANGSA.

MENJADIKAN ORANG PERCAYA MURID KRISTUS.

MELENGKAPI ORANG PERCAYA UNTUK PEKERJAAN PELAYANAN BAGI PEMBANGUNAN KERAJAAN ALLAH.

MENINGKATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN TUBUH KRISTUS.

Visi Umum Gereja Bethel Indonesia:

Menjadi Seperti Yesus
Visi Gereja Tuhan Akhir Zaman. Gereja Tuhan tanpa visi seumpama kapal berlayar tanpa kompas sebagai petunjuk arah kapal.
Akibatnya gereja akan berputar-putar tanpa tujuan sampai kehabisan energi dan bisa-bisa berakhir tenggelam diterpa ombak dunia yang ganas. GBI sebagai salah satu gereja Tuhan di Indonesia telah memiliki visi umum sejak Sidang BPL (Badan Pekerja Lengkap) II, pada tanggal 23-27 Agustus 1991, yaitu: “Menjadi Seperti Yesus”.

Visi itu merupakan arah dari semua program dari kegiatan yang terus menerus sampai tujuan tertinggi atau optimal dari proses keselamatan dalam Kristus. Dan karena hakikat gereja adalah universal maka kami percaya itu juga berlaku untuk semua gereja. Intisari dari visi itu sendiri merupakan keinginan Allah sejak penciptaan. Ia menciptakan manusia menurut gambar Allah melalui Yesus Kristus. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari
semula (setelah diselamatkan), mereka juga ditentukan-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkannya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Rm. 8:29-30).

Jadi, visi ini dapat menjadi garda sekaligus tolok ukur pencapaian pertumbuhan gereja, apakah jemaat Kristus semakin diproses dalam memiliki karakter Kristus, perangai Kristus, dan sifat tabiat Yesus; sehingga gereja terhindar dari roh kompetisi atau ambisi pribadi yang sekadar mengejar target jumlah jemaat atau jumlah gereja yang dibuka. Untuk itu, gereja perlu melakukan Filipi 2:5 yang berbunyi: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

Pengakuan Iman GBI

Aku percaya bahwa:

Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
adalah Firman Allah yang diilhamkan oleh Roh Kudus.

Allah yang Maha Esa itulah Allah Tritunggal
yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus, tigaPribadi di dalam satu.

Yesus Kristus
adalah anak Allah yang tunggal dilahirkan oleh perawan Maria yang dinaungi oleh Roh Kudus, bahwa Yesus telah disalibkan, mati, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga dari antara orang mati, bahwa Ia telah naik ke Surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa sebagai Tuhan,
Juruselamat dan Pengantara kita
.

Semua manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah sehingga harus bertobat dan berpaling kepada Allah untuk menerima pengampunan dosa.

Pembenaran dan kelahiran baru terjadi karena iman di dalam darah Yesus Kristus yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Setiap orang yang bertobat harus dibaptis secara selam dalam Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, yaitu dalam nama TuhanYesus Kristus.

Penyucian hidup adalah buah kelahiran baru karena percaya dalam darah Yesus Kristus yang dikerjakan oleh kuasa Firman Allah dan Roh Kudus, karena itu kesucian adalah asas dan prinsip hidup umat Kristen.

Baptisan Roh Kudus adalah karunia Tuhan untuk semua orang yang telah disucikan hatinya; tanda awal baptisan Roh Kudus adalah berkata-kata dengan bahasa roh sebagaimana diilhamkan oleh Roh Kudus.

Perjamuan Kudus dilakukan setiap kali untuk meneguhkan persekutuan kita dengan Tuhan dan satu dengan yang lain.

Kesembuhan Ilahi tersedia dalam korban penebusan Yesus untuk semua orang percaya.

Tuhan Yesus Kristus akan turun dari sorga untuk membangkitkan semua umat-Nya yang telah mati dan mengangkat semua umat-Nya yang masih hidup lalu
bersama-sama bertemu dengan Dia di udara, kemudian Ia akan datang kembali bersama orang kudus-Nya untuk mendirikan Kerajaan Seribu Tahun di bumi ini.

Pada akhirnya semua orang mati akan dibangkitkan, orang benar akan bangkit pada kebangkitan yang pertama dan menerima hidup kekal, tetapi orang jahat akan bangkit pada kebangkitan yang kedua dan menerima hukuman selama-lamanya.

Sinode Baru

Seperti GBI yang merupakan sinode yang lahir dari tubuh Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) dan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), maka dari tubuh Sinode GBI juga lahir beberapa sinode-sinode baru yang memisahkan diri, di antaranya:

Gereja Bethany Indonesia
Gereja Tiberias Indonesia
Gereja Berita Injil

SEJARAH GEREJA
1922,
Pendeta W.H. Offiler dari Bethel Pentecostal Temple Inc., Seattle, Washington, Amerika Serikat, mengutus dua orang misionarisnya ke Indonesia, yaitu Pdt. Van Klaveren dan Groesbeek, orang Amerika keturunan Belanda. Pada mulanya mereka memberitakan Injil di Bali, tetapi kemudian pindah ke Cepu, Jawa Tengah. Di sini mereka bertemu dengan F.G. Van Gessel, seorang Kristen Injili yang bekerja pada Perusahaan Minyak Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Van Gessel pada tahun sebelumnya telah bertobat dan menerima hidup baru dalam kebaktian Vrije Evangelisatie Bond yang dipimpin oleh Pdt. C.H. Hoekendijk (ayah dari Karel Hoekendjik). Groosbeek kemudian menetap di Cepu dan mengadakan kebaktian bersama-sama dengan Van Gessel. Sementara itu, Van Klaveren pindah ke Lawang, Jawa Timur.

1923,
Januari
Nyonya Van Gessel sebagai wanita yang pertama di Indonesia menerima Baptisan Roh Kudus dan demikian pula dengan suaminya beberapa bulan setelahnya.
30 Maret
pada hari raya Jumat Agung, Groesbeek mengundang Pdt. J. Thiessen dan Weenink Van Loon dari Bandung dalam rangka pelayanan baptisan air pertama kalinya di Jemaat Cepu ini. Pada hari itu, lima belas jiwa baru dibaptiskan.
Dalam kebaktian-kebaktian berikutnya, bertambah-tambah lagi jemaat yang
menerima Baptisan Roh Kudus, banyak orang sakit mengalami kesembuhan secara mujizat. Karunia-karunia Roh Kudus dinyatakan dengan ajaib di tengah-tengah jemaat itu.

Inilah permulaan dari gerakan Pentakosta di Indonesia. Berempat, Van Klaveren, Groesbeek, Van Gessel, dan Pdt. J. Thiessen, berempat merupakan pionir dari “Gerakan Pentakosta” di Indonesia. Kemudian Groesbeek pindah ke Surabaya, dan Van Gessel telah menjadi Evangelis yang meneruskan memimpin Jemaat Cepu.

1926,
April,
Groesbeek dan Van Klaveren berpindah lagi ke Batavia (Jakarta). Sementara
Van Gessel meletakkan jabatannya sebagai Pegawai Tinggi di BPM dan pindah ke Surabaya untuk memimpin Jemaat Surabaya. Jemaat yang dipimpin Van Gessel itu bertumbuh dan berkembang pesat dengan membuka cabang-cabang di mana-mana, sehingga mendapat pengakuan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama “De Pinksterkerk in Indonesia” (sekarang GPdI).

1932,
Jemaat di Surabaya ini membangun gedung Gereja dengan kapasitas 1.000 tempat duduk (gereja yang terbesar di Surabaya pada waktu itu).

1935,
Van Gessel mulai meluaskan pelajaran Alkitab yang disebutnya “Studi Tabernakel”. Gereja Bethel Pentecostal Temple, Seattle, kemudian mengurus beberapa misionaris lagi. Satu di antaranya yaitu, W.W. Patterson membuka Sekolah Akitab di Surabaya (NIBI: Netherlands Indies Bible Institute). Sesudah Perang Dunia II, para misionaris itu membuka Sekolah Alkitab di berbagai tempat.

Sesudah pecah perang, maka pimpinan gereja harus diserahkan kepada orang Indonesia. H.N. Rungkat terpilih sebagai ketua GPdI menggantikan Van Gessel.

Jemaat gereja yang seharusnya menjaga jarak dari sikap politik yang terpecah belah terjebak dalam nasionalisme yang tengah berkobar-kobar pada saat itu. Akibatnya roh nasionalisme meliputi suasana kebaktian dalam gereja-gereja Pentakosta. Van Gessel menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bertindak sebagai pemimpin.

Kondisi rohani Gereja Pentakosta di saat itu menyebabkan ketidakpuasan di
sebagian kalangan pendeta-pendeta Gereja tersebut. Ketidakpuasan ini juga ditambah lagi dengan kekuasaan otoriter dari Pengurus Pusat Gereja.

1952
21 Januari

Dari ketidakpuasan tersebut mengakibatkan, sekelompok pendeta yang terdiri dari 22 orang, memisahkan diri dari Organisasi Gereja Pentakosta, satu di antaranya adalah Pdt. H.L. Senduk , di kota Surabaya, mereka kemudian membentuk suatu organisasi gereja baru yang bernama Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS). Van Gessel dipilih menjadi “Pemimpin Rohani” dan H.L Senduk ditunjuk menjadi “Pemimpin Organisasi” (Ketua Badan Penghubung). Pdt. H.L. Senduk berperan sebagai Pendeta dari jemaatnya di Jakarta, sedangkan Van Gessel memimpin jemaatnya di Jakarta dan Surabaya.

1954,
Van Gessel meninggalkan Indonesia dan pindah ke Irian Jaya (waktu itu di bawah Pemerintahan Belanda).

Jemaat Surabaya diserahkannya kepada menantunya, Pdt. C. Totays.

Di Hollandia (sekarang Jayapura).Van Gessel membentuk suatu organisasi baru yang bernama Bethel Pinkesterkerk (sekarang Gereja Bethel Pentakosta).

1957
Van Gessel meninggal dunia dan kepemimpinan Jemaat Bethel Pinkesterkerk diteruskan oleh Pdt. C. Totays.

1962,
Sesudah Irian Jaya diserahkan kembali kepada Pemerintah Indonesia, maka semua warga negara Kerajaan Belanda harus kembali ke negerinya. Jemaat berbahasa Belanda di Hollandia ditutup, tetapi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia berjalan terus di bawah pimpinan pendeta-pendeta Indonesia.

GBIS di bawah pimpinan H.L. Senduk berkembang dengan pesat. Bermacam-macam kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi organisasi ini. Namun semakin besarnya organisasi, begitu banyak kepentingan yang harus diakomodasi.

1968-1969,
Kepemimpinan Pdt.H.L. Senduk di GBIS diambil alih oleh pihak-pihak lain yang disokong suatu keputusan Menteri Agama. Senduk dan pendukungnya memisahkan diri dari organisasi GBIS.

1970,
6 Oktober
Dengan pergumulan doa dan puasa,  Tuhan pun membuka jalan dengan ajaib,
Pdt. H.L. Senduk (yang juga dikenal sebagai Oom Hoo)  dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi Gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Sukabumi, Jawa Barat mereka mulai dengan hanya kurang dari 20 jemaat.

1972
9 Desember
GBI diakui pemerintah secara sah sebagai suatu Kerkgenootschap melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972..

1972,
Pdt H.L. Senduk yang melayani di GBI Jemaat Petamburan dibantu oleh istrinya Pdt Helen Theska Senduk, Pdt Thio Tjong Koan, dan Pdt Harun Sutanto.
memanggil anak rohaninya, Pdt S.J. Mesach dan Pdt Olly Mesach untuk membantu pelayanan di GBI Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang GBI Jemaat Sukabumi, yang telah dilayaninya sejak tahun1963.

1990
17 Agustus
Pdt. Dr. Yesaya Pariadji. keluar dari GBI dan mendirikan Gereja Tiberias Indonesia (GTI)

2003,
17 Januari
Pdt. Ir. Leonard Limato dan Pdt. Abraham Alex Tanuseputra keluar dari GBI dan mendirikan Gereja Bethany Indonesia (GBI Bethany).

YAYASAN & LEMBAGA MILIK GEREJA

SEMINARI BETHEL
GBI memunyai Lembaga Pendidikan Teologi dengan nama Seminari Bethel yang berpusat di Jakarta dan terletak di Jl.Petamburan IV/5 Tanah Abang, Jakarta Pusat 10260.
Seminari Bethel Jakarta menaungi beberapa unit pendidikan, yaitu:
1. SEKOLAH PENGINJIL (SP).
Program Sertifikat, dengan lama studi 1 tahun)
2. SEKOLAH MENENGAH TEOLOGI KRISTEN (SMTK).
Pendidikan yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). SMTK telah mendapatkan status akreditasi dengan predikat A-Unggul dari Departemen Agama.
3. INSTITUT THEOLOGIA DAN KEGURUAN INDONESIA (ITKI).
ITKI menyelenggarakan beberapa program pendidikan dari Strata 1 (S1) sampai Strata 3 (S3). Program S1 menyelenggarakan program studi: Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Misi. Program S2 menyelenggarakan program: Master of Arts in Church Ministry (MACM) dan Magister Theologi (M.Th) dengan program studi: Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Pastoral Konseling. Program S3 menyelenggarakan program studi: Doctor of Ministry (D.Min) dengan program studi: Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Konseling Pastoral.

  • kembali ke atas
  • About these ads
    Ditandai: ,