Huria Kristen Indonesia

Posted on Mei 10, 2010 oleh

3


HKIAlamat
Jl. Melancthon Siregar No. 111
Pematangsiantar – Sumut 21128
Telp.0622-743.6476; 25995; Fax. 23238
Email: hki@hki-online.or.id
Website: http://www.hki-online.or.id

STATISTIK
Denominasi gereja: Lutheran
Jumlah wilayah pelayanan: 8 Distrik/ Daerah,
Jumlah jemaat: 674 jemaat, 103 Resort.
Jumlah anggota jemaat: 300.000 jiwa
Jumlah hamba Tuhan: 130 Pendeta, 674 guru jemaat. 8 bibelvrow. 4 diakones.

BADAN PENGURUS
Ephorus : Pdt. Dr. Burdju Purba
Sekjen : Pdt. Rudolf Simanjuntak, BD

TENTANG GEREJA
Huria Kristen Indonesia
adalah sebuah gereja Lutheran di Indonesia yang berkantor pusat di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Gereja ini termasuk kelompok gereja-gereja Protestan dan merupakan anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Berabad-abad lamanya, suku Batak berada dalam “kegelapan”. Oleh Anugerah Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, setelah tiba waktunya, Allah mengutus hamba-hambaNya memberitakan Injil kehidupan ke tengah-tengah suku Batak yang masih berada dalam kegelapan itu.

Sejak didirikan (1908-1946) HChB (HKI) tidak diakui oleh Badan Zendng RMG sebagai Gereja. Oleh sebab itu, selain dari mempengaruhi Pemerintahan Hindia Belanda untuk mempersulit Gereja HChB memperoleh Rechtperson dan izin melayankan sakramen, juga menghambat HChB memasuki badan-badan ekumenis di Indonesia dan internasional selama 40 Tahun. Semua perguruan teologi di Indonesia tertutup untuk HChB. Dengan kemampuannya yang terbatas, HChB mendidik para pelayannya (pendeta, guru jemaat, bibelvrow dan evangelis) selama 40 Tahun. HKI juga tidak menerima bantuan apapun dari gereja-Gereja dalam dan Luar Negeri. Gereja HKI benar-benar berdiri sendiri dalam daya, dana dan teologi.

HKI adalah salah satu Gereja Anggota di CCA, LWF, WCC, UEM dan memiliki hubungan yang baik dengan Gereja-Gereja di Indonesia dan dengan gereja –Gereja di Indonesia dan dengan gereja-gereja manca negara misalnya ELCA di Amerika Serikat), Gereja Lutheran di Australia (LCA), Gereja Rheinland dan Westfalia di Jerman, dan secara khusus memiliki hubungan kemitraan dengan K.K Hamm Jerman.

SEJARAH GEREJA

1907,
Badan Zending Jerman “Reinische Missionsgesellschaft (RMG) mendirikan jemaat di Pematang Siantar (Jalan Gereja sekarang), dan jemaat ini menjadi pusat utama para misionaris RMG di Sumatera Timur. Akan tetapi, warga jemaatnya banyak yang tersebar di sekitar pinggiran kota Pematang Siantar yang jaraknya kurang lebih 4 km dari gereja ini dan F. Sutan Malu Panggabean adalah salah seorang dari antaranya.

1908
20 Mei
Mempertimbangkan sulitnya menjangkau gereja di Pematang Siantar dengan Jalan kaki, maka F. Sutan Malu Panggabean mengusulkan agar didirikan satu jemaat baru di Pantoan. Usul ini ditolak oleh Pdt. R. Scheneider (missionaris RMG) di gereja Pematang Siantar.
Akhirnya F.P.Sutan Malu berinisiatif mendirikan persekutuan gereja yang kemudian diberi nama Hoeria Christen Batak ( H.Ch.B) dirumahnya di daerah Pantoan, Pematang Siantar

1909
F. Sutan Malu Panggabean lulusan dari Sekolah Guru Seminari Sipaholon.

1927
01 April
F.P.Sutan Malu yang sudah mulai melakukan kebaktian Minggu dirumahnya di daerah Pantoan Pematang Siantar akhirnya membuat surat pemberitahuan resmi pendirian Hoeria Christen Batak ( H.Ch.B) kepada pemerintahan dengan alasan utama pendirian Gereja yakni
–  Penolakan RMG atas usulannya dan
–  keinginan untuk menyelenggarakan pekabaran Injil (marturia), persekutuan (koinonia), dan pelayanan kasih (diakonia) seperti yang dinyatakan oleh F. Sutan Malu Panggabean pada waktu ditanyai oleh pejabat pemerintah Simalungun dengan mengutip Yakobus 1:22  “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”.

1927-1930,
Sambutan masyarakat Kristen Batak terhadap HChB di Pematangsiantar dan sekitarnya sangat luar biasa. Dalam kurun waktu yang relatif singkat (8 Tahun) telah berdiri 5 Jemaat dengan 220 Kepala Keluarga.

1928
5 Agustus,

123 orang warga jemaat RMG yang ada di Medan mendirikan satah satu Jemaat baru yang disebut “Hoeria Christen Batak Medan Parjolo” (HChB Medan ). Yang oleh kelompok yang tidak senang dengan Jemaat ini, mereka mengejeknya dengan sebutan “Partai 123”.

1929,
9 September
Adanya ejekan kepada HChB yang disebut-sebut oleh orang-orang yang tidak menyukainya sebagai kumpulan Partai Politik sangat menderita. Karena tidak diakui sebagai Gereja. Maka pimpinan HChB Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean dan Sekretaris I.M Titoes Lumban Gaol melayangkan permohonan Rechtperson dan izin melayankan sakramen (baptisan dan perjamuan kudus) kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta yang kemudian tidak dijawab.

1931
1 Agustus,
Permohonan kedua Rechtperson dan izin melayankan sakramen juga tidak dijawab.

1931-1933
Jumlah Jemaat HChB bertambah menjadi 47 Jemaat.

1931-1942
Gereja HChB menyebar sampai ke Daerah Deli Serdang, Tapanuli didaerah Humbang, Sipahutar, Pangaribuan, Silindung sekitarnya, Patane Porsea atau Toba Holbung sekitarnya, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sidikalang, atau Dairi sekitarnya, Tanah Alas dan sekitarnya.

1932,
HChB mengutus Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean untuk dapat langsung menghadap Gebernur Jenderal di Jakarta.

1933
27 Mei
Setelah dilakukan rapat oleh pemerintah Belanda maka permohonan Rechtperson diberikan. Sepuluh hari berikutnya, izin melayankan sakramen juga diberikan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Menyadari pentingnya pelayan untuk melayankan sakramen maka pata tahun 1933 Voorzitter F.P Sutan Malu Panggabean ditahbiskan menjadi pendeta.

1933-1935,
Jemaat HChB mencapai lebih dari 170 Jemaat.

1946
16-17 November
Atas kesadaran perluasan misi Gereja dan atas kesadaran bahwa HChB bukan hanya untuk berada di Tanah Batak Saja, maka pada Synode HChB tahun 1946 nama HChB ( Huria Christen Batak ) diperluas menjadi HKI ( Huria Kristen Indonesia ). Dalam Synode ini juga dipilih Voorzitter ( Ketua yang baru ) yakni Pdt. T.J Sitorus yang memimpin HKI selama 32 tahun sampai Juli tahun 1978.

Akan tetapi setelah selesai sinode, ada beberapa jemaat dan pendeta yang menyatakan ketidaksetujuan nya pada perluasan nama ini. Mereka terpisah dari HKI dan tetap memakai nama HChB, yang kemudian diubah menjadi “Gereja Kristen Batak ” (GKB).

1967
29 Oktober
HKI diterima menjadi anggota Dewan Gereja-Gereja Indonesia (DGI) pada Sidang Raya di Makassar.

1976
26 Agustus,
Sinode Gereja Kristen Batak (GKB) menyatakan diri bergabung kembali dengan HKI.

  • kembali ke atas
  • About these ads
    Ditandai: