Keuskupan Timika

Posted on Juli 23, 2010 oleh

3


ALAMAT
Jalan. Cendrawasih No 12 Mulia Mini Mall,
TIMIKA, 99910 – PAPUA
Telp. (62) 901-3230 53
Fax. (62) 901-3238 19
Email. bishopoftimika@yahoo.com distmk@timika.wasantara.net.id

STATISTIK
Denominasi gereja: Katolik Roma
Jumlah wilayah pelayanan: 5 dekaniat (Teluk Cenderawasih, Paniai, Kamu-Mapia, Puncak Jaya, Mimika-Agimuga)
Jumlah jemaat: 25 paroki
Jumlah anggota jemaat: 85.148 orang
Jumlah hamba Tuhan: 24 Imam, 4 Frater, 35 Suster.

BADAN PENGURUS
Pimpinan Keuskupan : Uskup John Philip Saklil
Sekretaris Umum: Pastor Vincentius Suparman, SCJ
Ekonom: Max Welerubun

TENTANG GEREJA
Keuskupan Timika seluas 102.892 kilometer persegi atau 24,38 persen dari total luas 421.981 kilometer persegi Provinsi Papua. Keuskupan mencakup delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah. Mereka adalah Biak-Numfor, Mimika, Nabire, Paniai, Puncak Jaya, Serui, Supiori dan Yapen-Waropen.

Topografi wilayah pegunungan menjadikan transportasi antar kota menjadi hal yang sulit. Meski begitu pemerintah daerah membangun jalan Trans-Papua yang menghubungkan kota Nabire di pantai utara dengan Enarotali di pedalaman Kabupaten Paniai. kota-kota lain hanya dapat dicapai dengan pesawat kecil seperti Cessna 185 yang dioperasikan oleh Associated Mission Aviation (AMA) yang dimiliki bersama oleh keuskupan Katolik Papua.

SEJARAH GEREJA
1891
11 Juli
Penguasa kolonial Belanda mengijinkankan Gereja Katolik Vikariat Apostolik yang berbasis di Batavia (sekarang Jakarta), untuk beroperasi di Papua Barat Daya.

1894
22 Mei,
Pastor Kornelius Le Cocq D’Armandville tiba di Skroe dekat Fak-Fak, Papua. 10 hari kemudian ia membaptis 73 orang.

1896
27 Mei
Pastor Kornelius kemudian mengunjungi Kipia, sebuah desa pesisir kabupaten Mimika yang kemudian tewas dibunuh oleh orang tidak dikenal yang oleh awak kapal, tubuhnya dibuang ke laut.

1902
22 Desember
Vatikan membentuk Prefektur Apostolik Belanda New Guinea yang dipercayakan kepada para imam Misionaris Hati Kudus bertempat di Langgur, Pulau Kei, Maluku Tenggara. Sebelumnya bagian dari Vikariat Apostolik Batavia dilayani oleh para imam Jesuit yang wilayah prefekturnya meliputi wilayah Maluku dan Papua. Misionaris Hati Kudus yang menjadi Prefek apostolik pertama adalah Pastor Matthias Neyens.

1904
1 Januari
Daerah misi ini diserahkan kepada imam Hati Kudus namun, di daerah penginjilan tidak dapat terus sebagai pemerintah kolonial Batavia, dalam perusahaan,

1912
12 Januari
Misi Katolik dilarang bekerja di utara Papua.

1920
29 Agustus 1920,
Vatikan mengangkat status prefektur apostolik dengan yang Vikariat apostolik, dan Hati Kudus ditunjuk Bapa sebagai pendeta J. Aerts apostolik. Pada saat itu, Vikariat itu 7.688 yang terdiri dari 4.884 umat Katolik di Kei, 2.554 di Tanimbar, baik di Maluku, dan 250 di Papua. Sebagian besar Katolik di Papua adalah pendatang dari Kei dan Tanimbar, dan Belanda.

1928
9 Mei
Monsignor Aerts, Fr Kowatzky, Benedictus Renjaan dan Christianus Rettob tiba di Kokonao. Renjaan membuka sebuah sekolah di Kekwa, Mimika. Sejak

1928
27 Mei,
Bapa Kowatzki tinggal di Kokonao.

1933,
Monsignor Aerts mengirimkan proposal kepada Kongregasi Vatikan untuk Propaganda Iman meminta pembagian Vikariat menjadi dua vicariates. Vatikan memberikan jawaban pada bulan Desember tahun yang sama, yang mengatakan bahwa sebelum divisi, harus ada cukup banyak stasiun misi.

1936
28 September
Kongregasi Vatikan mengizinkan Fransiskan untuk melayani di Vikariat New Guinea. Lima imam Fransiskan dan satu saudara ditugaskan pada bulan Oktober 1936 sampai melayani di Papua.

1937
1 April
Penyerahan pelayanan pastoral dari Hati Kudus untuk misionaris Fransiskan bertempat di Langgur. Pada saat itu Vikariat memiliki 37.767 umat Katolik, yang terdiri dari 16.677 umat Katolik di Kei, 10.969 di Tanimbar, 667 di Ambon, dan 9454 di Papua.

1049
12 Mei
Vantikan membagi karya misi di Papua untuk Vikariat New Guinea ke dalam dua Vikariat yakni Vikariat Apostolik Amboina dan Prefektur Apolostik Hollandia.

1949
3 Juni
Fr Cremens ditunjuk sebagai Prefek Apostolik Hollandia (sekarang Jayapura).

1950
24 Juni
Vatikan membentuk Vikariat Apostolik Merauke, dengan Pastor H. Tillemans sebagai pendeta apostolik tersebut. Dengan demikian Papua memiliki dua wilayah Gereja.

1959
19 Desember
Kongregasi Penyebaran Iman menaikkan status Hollandia dari Prefektur Apostolik ke Vikariat Apostolik.

1961
3 Januari
Paus Yohanes XXIII mengeluarkan SK pembentukan hirarki Gereja di Indonesia dan akibatnya ditinggikan semua vicariates apostolik dan prefektur apostolik ke status keuskupan dan keuskupan agung.

1963,
Indonesia mengambil alih pemerintahan barat dari Papua Belanda.

1966,
Vicariates Apostolik Jayapura dan Manokwari-Sorong yang diangkat menjadi Keuskupan, sedangkan Keuskupan Merauke menjadi Keuskupan Agung Merauke

2003
19 Desember 2003,
Paus Yohanes Paulus II menyetujui pembentukan keuskupan Timika yang sebelumnya Episkopal Vikariat Keuskupan Jayapura, dan ditunjuk Pastor John Philip Saklil sebagai uskup dari keuskupan baru

About these ads
Ditandai: