Pentakostal

TENTANG PENTAKOSTAL

  • AWAL KEMUNCULAN
  • AJARAN POKOK
  • TATA IBADAH DAN CARA HIDUP
  • PERKEMBANGAN DI DUNIA
  • JALAN MASUK KE INDONESIA
  • PERKEMBANGAN DI INDONESIA
  • INSTITUSI DAN ORGANISASI

    AWAL KEMUNCULAN

    Gerakan/aliran Pentakostal ini muncul di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, sebagai lanjutan dari suatu gerakan yang mendahuluinya, yakni Holiness Movement (Gerakan Kesucian) yang muncul di Amerika Serikat pada dasawarsa 1830-an. Gerakan ini muncul terutama dalam Gereja Metodis yang berkeinginan untuk kembali kepada kegairahan dan kesederhanaan yang menekankan kembali kepada pertobatan secara mendadak yang menjadi cita-cita dalam kebangunan Methodis dan kesempurnaan Kristen seperti yang dianjurkan dalam Teologi Wesley.

    Ada dua versi/pendapat tentang awal kemunculan gerakan/aliran Pentakostal. Versi pertama mengatakan bahwa awal kemunculan Pentakostal adalah Pada tahun 1900 salah seorang tokoh gerakan tersebut, Ch. F. Parham tanggal 1 Januari 1910 di kota Topeka, Amerika Serikat, oleh karena pada tanggal tersebut Agnes N. Ozman (salah seorang murid Sekolah Alkitab Bethel) memperoleh Baptisan Roh disertai dengan bukti berbahasa lidah, setelah Pdt. Charles F.Praham (yang mengembangkan 3 pokok ajaran yang kemudian hari menjadi ciri gerakan Pentakosta pada umumnya, yaitu tekanan pada eskatologi, pada baptisan dengan Roh dan pada karunia-karunia Roh, khususnya karunia lidah, sebagai tanda seseorang telah menerima baptisan Roh) menumpangkan tangan ke atas kepalanya. Sementara versi kedua mengatakan bahwa awal kemunculan Pentakostal adalah pada tanggal 9 April 1906 di kota Los Angeles, oleh karena pada tanggal tersebut Roh Kudus turun dan terdengar bahasa lidah di kawasan pantai barat negeri itu, setelah tiga hari berturut-turut Pdt. William J. Seymour (seorang pendeta kulit hitam) berkhotbah di Los Angeles. akhirnya gerakan ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Amerika Serikat dan negara-negara lain.

    AJARAN POKOK

    Baptisan – terdiri atas dua jenis, yakni Baptisan air dan Baptisan Roh (dan api). Baptisan air, yakni lambang kematian dan penguburan kemanusiaan yang lama, dengan cara menyelamkan ke dalam air orang yang sudah menyatakan pertobatan dan percaya sungguh-sungguh bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatnya. Dengan itu tubuhnya yang berdosa telah dibersihkan, sedangkan hati dan batinnya telah diperciki dan disucikan oleh darah Kristus.
    Sedangkan tentang Baptisan Roh (dan api), ini dijanjikan oleh Allah Bapa sesuai dengan perintah Tuhan Yesus Kristus. Dengan Baptisan ini orang yang menerimanya beroleh kuasa untuk hidup dan pelayanannya, dikokohkan karunia-karunia dan penggunaannya dalam karya pelayanan. Pengalaman ajaib ini merupakan bentuk yang nyata dan kelanjutan dari pengalaman kelahiran baru.

    Berbahasa lidah (glossolalia) – Baptisan atas orang-orang percaya di dalam Roh Kudus diawali dan disaksikan oleh tanda lahiriah berupa berbicara dalam bahasa lidah, sebagaimana kemampuan yang diberikan Allah kepada para rasul (Kis.2:4). Berbahasa lidah dalam nats ini pada hakikatnya sama dengan karunia lidah dalam I Korintus 12:4-10, 28, tetapi berbeda dalam maksud dan penggunaannya.

    Penyembuhan ilahi (penyembuhan rohani) - merupakan salah satu dari karunia Roh yang pada prinsipnya diberikan kepada semua orang percaya, tetapi dalam prakteknya hanya diperoleh orang-orang tertentu.

    Dalam bidang Teologi ada sebagian gereja Pentakosta yang berpegang pada teologi Keesaan yang menolak doktrin Tritunggal (Trinitas) yang tradisional dan menganggapnya tidak alkitabiah. Denominasi Keesaan Pentakostal yang terbesar di Amerika Serikat adalah United Pentecostal Church. Kaum Pentakostal Keesaan ini kadang-kadang juga dikenal dengan “Nama Yesus”, “Kerasulan” atau yang oleh para pengecamnya disebut sebagai orang-orang Pentakosta “Yesus saja”. Hal ini disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa para Rasul yang mula-mula itu membaptiskan orang-orang Kristen baru di dalam nama Yesus. Mereka juga percaya bahwa Allah menyatakan diri-Nya dalam berbagai peran, dan bukan dalam tiga pribadi yang berbeda. Namun demikian organisasi-organisasi pentakostal trinitarian yang utama, termasuk Pentecostal World Conference dan Fellowship of Pentecostal and Charismatic Churches of North America menentang teologi Keesaan dan menganggapnya sebagai ajaran sesat. Mereka tidak menerima kelompok ini sebagai anggota mereka. Kelompok Keesaan ini pun memperlakukan hal yang sama terhadap kelompok trinitarian.

    TATA IBADAH DAN CARA HIDUP

    Gereja Pentakosta mempunyai ciri-ciri yang sama di seluruh dunia, antara lain:
    Kebaktian yang serba bebas (tidak se-formal gereja Lutheran, Calvinis, Katolik Roma dll ), pemakaian Alkitab secara “spontan” sehingga tidak dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
    Sangat menekankan keyakinan akan peranan Roh Kudus dan karunia-karunia Roh Kudus ( karunia lidah dan karunia kesembuhan sebagai tanda-tanda kesucian ) di dalam kehidupan sehari-hari para pengikutnya.
    Pembangunan jemaat melalui kegiatan kebangunan rohani yang meliputi dorongan untuk bertobat dan hidup suci,
    Pembaharuan infrastruktur ibadah, antara lain lagu-lagu rohani yang digunakan lebih modern dibandingkan dengan lagu-lagu lama yang bernuansa Gregorian.
    Gereja mengizinkan peran kaum perempuan dalam pelayanan.
    Desakralisasi hubungan antara imam dan jemaat yang lebih ditekankan pada nilai kekeluargaan, sehingga jauh dari kesan kesenjangan tingkat kerohanian.

    PERKEMBANGAN DI DUNIA

    Christianity Today melaporkan dalam sebuah artikel yang berjudul “World Growth at 19 Million a Year” (Bertumbuh 19 juta angota di seluruh dunia) bahwa menurut sejarahwan Vinson Synon, dekan Regent University School of Divinity (Sekolah Teologi Universitas Regent) di Virginia Beach bahwa 25% dari seluruh umat Kristen di dunia adalah Pentakostal atau karismatik

    Denominasi-denominasi Pentakostal terbesar di AS adalah Assemblies of God (Sidang Jemaat Allah), Church of God in Christ, Church of God (Cleveland), dan United Pentecostal Church. Menurut sebuah artikel Musim Semi 1980 dari Christian History, ada sekitar 11.000 denominasi pentakostal atau karismatik di seluruh dunia.

    Di Amerika Serikat, gereja-gereja Pentakostal diperkirakan mempunyai lebih dari 20 juta anggota, termasuk sekitar 918.000 (4%) penduduk Hispanik. Jumlah ini mencakup jemaat-jemaat yang tidak berafiliasi, meskipun jumlahnya tidak pasti. Hal ini sebagian disebabkan karena sebagian ajaran Pentakostalisme juga dianut oleh denominasi non-Pentakostal yang dikenal sebagai gerakan karismatik.

    Perhitungan konservatif atas penganut Pentakostalisme pada tahun 1972 pengikut aliran Pentakosta adalah 20 juta orang dan pada tahun 2000 mencapai 115 juta. Perkiraan lain menyebutkan jumlah hampir 400 juta. Sebagian terbesar dari pemeluknya terdapat di negara-negara Dunia Ketiga, meskipun kebanyakan pemimpin mereka masih orang Amerika Utara. Pentakostalisme kadang-kadang disebut sebagai “gerakan ketiga Kekristenan”.
    Gereja Kristen terbesar di dunia adalah Yoido Full Gospel Church (Gereja Injil Sepenuh Yoido) di Korea Selatan, sebuah gereja Pentakostal. Gereja ini didirikan dan dipimpin oleh David Yonggi Cho sejak 1958. Pada tahun 2003 anggotanya berjumlah 780.000.
    Gereja Yesus Sejati, adalah gereja pribumi yang didirikan oleh orang-orang Tionghoa di daratan Tiongkok, namun pusatnya sekarang berada di Taiwan.
    Gereja Kerasulan adalah gereja yang paling cepat berkembang di seluruh dunia.
    Menurut Christianity Today, Pentakostalisme adalah “iman yang hidup di antara kaum miskin, yang menjangkau ke dalam kehidupan sehari-hari anggotanya, dan menawarkan tidak hanya harapan tetapi juga sebuah cara hidup yang baru.” Selain itu, menurut sebuah laporan PBB pada 1999, “Gereja-gereja Pentakostal sangat berhasil dalam merekrut anggotanya dari kalangan yang paling miskin.” Juga menurut Christianity Today, di kalangan gereja-gereja Brazilia, di mana pemeluk Pentakostal pada umumnya sangat miskin, “Para pendetanya seringkali meminta anggotanya persembahan yang jumlahnya layak ditertawai; namun orang-orang ini memberikan 20, 30, dan kadang-kadang bahkan 50 persen dari penghasilan mereka.” Christianity Today juga mencatat bahwa kaum Pentakostal Brazilia berbicara tentang Yesus yang riil dan dekat kepada mereka, serta melakukan berbagai hal bagi mereka termasuk memberikan makanan dan tempat bernaung. Selain itu, Christianity Today mencatat “Para sarjana telah lama mengecap Pentakostalisme sebagai agama yang tidak memperhatikan hal-hal yang ada di dunia sini. Bagi banyak orang, hal ini dianggap sebagai kesimpulan yang tidak terelakkan, karena gerakan ini sangat menekankan pengalaman karismatik, religiositas yang mendalam, dan kecenderungan asketik (bertarak). Bahkan para sarjana Pentakostal yang sangat dihormati pun mengakui hal ini.

    JALAN MASUK KE INDONESIA

    Gerakan pentakosta secara tidak terencana masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang asal Inggris, J. Barnhard yang kemudian menetap di Temanggung, Jawa Tengah. Dari Temanggung, gerakan ini menyebar ke beberapa kota di Jawa, seperti Cepu dan Surakarta. Mulai tahun 1922, ajaran Pentakosta dibawa ke sana oleh Cornelius E. Groesbeck dan Richard van Klaveren, yang diutus oleh Bethel Temple dari Seatle, Amerika Serikat. Pada tahun 1923, tepatnya pada tanggal 19 Maret 1923 di Cepu berdiri Vereninging De Pinkstergemeente In Nederlandsch Oost Indie (Jemaat Pentakosta di Hindia Timur Belanda). Dan pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1923 di Cipanas, Jawa Barat, serta diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan Beslit No. 33, Staatblad No. 368. Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan, Minahasa, Maluku dan Papua.

    Pada tahun 1937 jemaat tersebut berganti nama menjadi De Pinksterkerk in Nederlands Oost Indie (Gereja Pentakosta di HTB), dan sejak tahun 1942 mulai disebut Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI).
    Gerakan/aliran Pentakostal pada mulanya masuk ke beberapa tempat di Indonesia (Temanggung-Jateng, Cepu, Surabaya, dan Bandung) pada waktu yang kira-kira sama, sekitar 1919-1923. Yang membawa dan menyebar-luaskannya sebagian adalah para penginjil professional dan sebagian lagi warga gereja yang tak kalah besar dalam menyaksikan keyakinan dan ajaran gerejanya. Mereka berasal dari Inggris, Belanda, dan (belakangan) Amerika.

    PERKEMBANGAN DI INDONESIA

    Sejak terbentuknya satu organisasi gereja pentakosta yakni Pinksterconvent (Sidang Pentakosta) semacam badan pengurus yang bersifat longgar, sesuai dengan gagasan Pentakosta mengenai organisasi gereja yang berjiwa kongregasionalistis. Mulai nampak ketidakcocokan di antara pengurus dengan pokok persoalannya antara lain:

    Ajaran Yesus Only yang menganggap Nama Yesus meliputi tiga pribadi Trinitas, sehingga pembaptisan cukup kalau dilakukan dalam nama Yesus saja. Ajaran ini dibawa masuk dari Amerika Serikat oleh van Gessel.

    Ada tidaknya hak seorang perempuan untuk memegang kedudukan kepemimpinan dalam gereja.

    Hubungan antara jemaat setempat dengan organisasi pusat, misalnya dalam hal milik gereja.

    Prestise suku atau individualis yang tinggi.

    Keempat faktor tersebutlah yang menyebabkan terjadinya rentetan perpecahan sehingga menyebabkan jumlah gereja Pentakosta dari 1 nama gereja menjadi 25 nama gereja. Ini dapat dilihat dari beberapa pendeta yang keluar memisahkan diri dari organisasi gereja Pentakosta dan mendirikan gereja baru, seperti:

    J. Thiessen pada tahun 1923 keluar dan mendirikan Pnksterbeweging, kemudian dikenal dengan nama Gereja Gerakan Pentakosta (GGP).

    M.A. van Alt pada tahun 1931 keluar dan mendirikan De Pinkerster Zending, kini dikenal dengan nama Gereja Utusan Pentakosta (GUP).

    F. van Akoude pada tahun 1931 keluar dan mendirikan Gemeente van God, kemudian hari dikenal dengan nama Gereja Sidang Jemaat Allah.

    Pdt. D. Sinaga pada tahun 1941 keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara (GPSU) atau dikenal dengan nama GPdI-Sinaga.

    Pdt. Tan Hok Tjwan pada tahun 1946 keluar dan mendirikan Sing Ling Kau Hwee yang kini dikenal dengan nama Gereja Isa Almasih (GIA).

    Pdt. Renatua Siburian pada tahun 1948 keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara atau dikenal GPdI Siburian.

    Pada tahun 1951 beberapa pendeta keluar dan mendirikan Gereja Sidang Jemaat Pentakosta.

    Pdt. T.G. van Gessel dan H.C. Senduk pada tahun 1952 keluar dan mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS).

    Pada tahun 1957 GBIS pecah dan Pdt. G. Sutupo dan Ing. Yuwono mendirikan Gereja Bethel Tabernakel (GBT).

    Pdt. Ishak Lew keluar pada tahun 1959 dan mendirikan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS).

    Pada tahun 1960 GBIS pecah lagi dan Pdt. A. Parera mendirikan Gereja Nazareth Pentakosta (GNP).

    Pdt. Karel Sianturi dan Pdt. Sianipar pada tahun 1966 keluar dan mendirikan GPSU atau dikenal dengan nama GPdI-Sianturi.

    Pdt. Korompis keluar pada tahun 1966 dan mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia (GPI).

    Pada tahun 1967 para pemimpin gereja-gereja Pentakosta di Surabaya dan Timor keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Elim (GPE).

    Pada tahun 1969 GBIS pecah lagi dan Pdt. H.L. Senduk mendirikan Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Pdt. Jacob Nahuway mendirikan GBI Mawar Saron.

    Pada tahun 1970 Gereja Bethel Tarbernakel pecah dan Ing. Yuwono mendirikan Gereja Pentakosta Tarbernakel (GPT).

    Meskipun perpecahan demi perpecahan terjadi, namun mereka tetap berafiliasi pada satu nama yaitu Pentakosta, sehingga timbul inisiatif untuk menyatukan kembali sikap dan pandangan gereja-gereja beraliran Pentakosta. Hal ini diwujudkan dengan berdirinya Dewan Kerjasama Gereja-gereja Kristen Pentakosta Seluruh Indonesia (DKGKPSI) dan Persekutuan Pentakosta Indonesia (PPI). Tetapi pada tanggal 10 September 1979, kedua organisasi tersebut membubarkan diri dan bergabung menjadi satu wadah dengan nama Dewan Pentakosta Indonesia (DPI), yang kemudian dirubah menjadi Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) hingga saat ini ada sekitar 58 Sinode/organisasi Gereja beraliran Pentakosta yang bergabung dalam PGPI. Perlu dicatat pula bahwa sejak akhir dasawarsa 1950-an ada pula gereja-gereja Pentakostal yang menjadi anggota PGI. Selain aliran Calvinis, Pentakostal dapat disebut sebagai aliran gereja yang pengikutnya sangat besar di Indonesia.

    Di Indonesia dewasa ini tumbuh beraneka ragam organisasi gereja Pentakostal. Yang terbesar di antaranya adalah Gereja Pentakosta di Indonesia (GpdI). Meskipun sudah mengalami perpecahan beberapa kali, namun GPdI tetap merupakan gereja Pentakosta yang terbesar di Indonesia. Di antara Gereja-gereja Pentakosta yang terbesar lainnya terdapat Gereja Bethel Indonesia dan Gereja Sidang Jemaat Allah. Jumlah anggota seluruh gereja Pentakosta di Indonesia lebih kurang dua juta. Hal ini berarti, bahwa Gerakan Pentakosta meliputi 10% seluruh umat Kristen di Indonesia.

    INSTITUSI DAN ORGANISASI

    INTERNASIONAL
    INDONESIA

    Gereja Bethany Indonesia, 20 ribu
    Gereja Bethel Gereja Pentakosta (GBGP)
    Gereja Bethel Indonesia (GBI), 500 ribu
    Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS)
    Gereja Bethel Pentakosta Indonesia (GBPI)
    Gereja Bethel Rohulkudus
    Gereja Bethel Tabernakel (GBT)
    Gereja Cahaya Rohulkudus (GCR)
    Gereja Duta Injil
    Gereja Gerakan Pentakosta (GGP),
    Gereja Isa Almasih (GIA),
    Gereja Kegerakan Pantekosta Minahasa (GKPM)
    Gereja Kegerakan Roh Suci (GKR)
    Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII),
    Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD),
    Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB)
    Gereja Mawar Sharon (GMS)
    Gereja Pentakosta Elim (GPE)
    Gereja Pentakosta Haleluyah Indonesia (GPHI)
    Gereja Pentakosta Hidup Baru (GPHB / NLPC)
    Gereja Pentakosta International Indonesia (GAPII)
    Gereja Pentakosta Jemaat Sion (GPJS)
    Gereja Pentakosta Kharismatika di Indonesia (GPKDI)
    Gereja Pentakosta Kristus (GPK)
    Gereja Pentakosta Kudus Indonesia ( GPKI )
    Gereja Pentakosta Maluku (Gepemal / GPM)
    Gereja Pentekosta Merdeka Indonesia (GPMI)
    Gereja Pentakosta Minahasa (Gepemin / GPM)
    Gereja Pentakosta Tabernakel (GPT)
    Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), 600 ribu
    Gereja Pentakosta di Tanah Papua (GPdP)
    Gereja Pentakosta Indonesia (GPI),
    Gereja Pantekosta Isa Almasih (GPIA),
    Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS),
    Gereja Pantekosta Serikat Di Indonesia (GPSDI),
    Gereja Pimpinan Rohulkudus (GPR)
    Gereja Segala Bangsa (GESBA)
    Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA)
    Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPDI),
    Gereja Tiberias Indonesia, 20 ribu
    Gereja Tuhan di Indonesia (GTdI)
    Gereja Utusan Pentakosta (GUP)
    Gereja Yesus Kristus Tuhan / Abbalove Ministries (GYKT)
    Jemaat Pentakosta Indonesia (JPI)
    Jakarta Praise Community Church)

    Sumber Pustaka:
    Majalah Penginjilan Indonesia “KABAR BAIK” No. 13 Th.III Oktober-November 1996 dan van den End & Weitjens, Ragi Carita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 860-1n-sekarang, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1993]

    http://id.wikipedia.org/wiki/Pentakostalisme

  • kembali ke atas
  • One Response “Pentakostal” →
    1. Shalom, sy bernama Rianto, sebelumnya sy sdh di Baptis selam di Gereja GBI, tetapi sy ingin Baptisan Roh & sy ingin sekali dipenuhi oleh Roh Kudus & bisa berbahasa Roh, mohon informasinya tentang Baptisan Roh hubungi sy di no hp : 081212220725/pin BB: 28B60187, terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

      Balas

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

    %d bloggers like this: