GPI-Bali EKKLESIA KUTA

Posted on April 16, 2010 oleh

0


ALAMAT
Jalan Sentani 1 bandara Ngurah Rai,
Kuta – Bali
Telp (0361) 752311
Fax (0361) 754424
email: info@gpibekklesiabali.or.id
situs: http://www.gpibekklesiabali.or.id

SEKILAS TENTANG GEREJA
Sejarah terbentuknya jemaat GPIB di Desa Tuban Kecamatan Kuta dimulai pada saat Pelabuhan Udara Tuban sedang dalam proses untuk ditingkatkan dari Pelabuhan Udara Domestik menjadi Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai sekitar tahun 1968. Mayoritas jemaat dikawasan ini terdiri dari anggota TNI Angkatan Darat dari Kompi-A batalyon 741 Udayana, karyawan Pelabuhan Udara Tuban dari unsur Dinas Penerbangan Sipil (DPS) dan unsur Meteorologi & Geofisika serta unsur Proyek Airport Bali (PAB) sedangkan sebagian kecil terdiri penduduk/keluarga yang tinggal disekitar Pelabuhan Udara, seluruhnya baru berjumlah kurang lebih 26 Kepala Keluarga termasuk yang masih berstatus bujangan.
Kendala yang dihadapi pada saat itu adalah sulitnya sarana transportasi untuk beribadah ke Denpasar yang jaraknya sekitar 13 kilometer karena saat itu masih sangat jarang kendaraan umum.
Termotivasi oleh situasi dan kondisi demikian, maka kelompok Jemaat GPIB Maranatha Denpasar yang berdomisili diwilayah Desa Tuban Kecamatan Kuta terpanggil untuk merintis pembentukan Persekutuan Jemaat GPIB sebagai Cabang dari Jemaat GPIB Maranatha Denpasar.

Diakhir tahun 1969 sampai dengan awal tahun 1970 pada saat proses pemilihan perangkat Majelis Jemaat dimulai, mulailah diproses pengadaan/pemilihan perangkat Majelis Jemaat untuk Bagian Jemaat Tuban-Kuta pada masa Pendeta Hursepuny STh menjadi Pendeta Jemaat di Gereja GPIB Maranatha Denpasar.
Pada tanggal 1 April 1970 dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pengangkatan pada Jabatan Penatua dan Diaken untuk Jemaat GPIB Maranatha Denpasar Cabang Tuban-Kuta, maka secara resmi berdirilah Jemaat GPIB di kawasan Tuban-Kuta, dengan Ketua Majelis Jemaat Sdr. Pnt. H. Matindas.

SARANA IBADAH.
Dengan bantuan Komandan Kompi A batalyon 741 Kuta pada saat itu, Kapten Toding, Jemaat GPIB Cabang Tuban-Kuta
mula-mula diijinkan menggunakan ruang makan kemudian diganti dengan Gudang penyimpanan barang, untuk kegiatan persekutuan jemaat setiap hari minggu dimulai jam 09.00, dengan catatan selesai ibadah dirapihkan kembali menjadi ruang makan maupun Gudang.
Pada tahun 1972 pinjaman ruangan untuk ibadah minggu di Asrama kompi A Batalyon 741 Udayana tidak dapat dilanjutkan karena akan direnovasi.

Majelis Jemaat kemudian berupaya menga-dakan pendekatan kepada Administrator (sebutan untuk Kepala Pelabuhan Udara) Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai pada saat itu, Iman Hertoto untuk mendapatkan tempat beribadah. Karena ruangan masih terbatas, Jemaat GPIB diberikan pinjaman bangunan Bedeng¡ darurat yang kondisinya jauh dari memuaskan karena sehari-hari digunakan untuk tempat istirahat buruh pada siang hari dan tempat penyimpanan kambing pada malam hari.

Melalui perjuangan umat beragama di Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai¡ dengan didukung dan restu sepenuhya oleh Pimpinan Pelabuhan Udara saat itu, diawal tahun 1974 dibentuk Panitia Pembangunan Rumah Ibadah dengan tugas membangun Masjid, Pura dan Gereja dengan melibatkan semua unsur umat Hindu, umat Islam dan umat Kristiani yang bekerja di Pelabuhan Udara. Personil dari unsur Kristen Katholik dan Protestan yang menjadi anggota Panitia adalah :

Dari Umat Kristen Protestan :
H. Matindas, Soejitno Hadhi dan
D.R. Karamoy (GPIB)
I Made Elia (Kemah Injil).

Dari Umat Kristen Katholik :
R. Mulyadi dan R. Moegiono.

Pada akhir tahun 1974 pembangunan Tempat Ibadah ini selesai dan diserahkan kepada masing-masing umat beragama untuk dikelola dan khusus untuk bangunan Gereja diserahkan penggunaannya kepada umat Kristiani pada bulan Desember 1974, dengan status Hak Guna Pakai karena tanahnya masih tetap menjadi milik Pelabuhan Udara Ngurah Rai.
Karena diwilayah Tuban Kuta umat dari
Gereja Kemah Injil hanya 1 (satu) Keluarga, yaitu keluarga I Made Elia, maka disepakati Gedung Gereja di areal Pelabuhan Udara ini diserahkan penge-lolaannya kepada umat Kristen Katholik dan Kristen Protestan.
Atas persetujuan bersama antara umat Katholik dan Protestan, Gedung Gereja ini diberi nama Gereja “Oikumene” dengan pengaturan penggunaan untuk ibadah sebagai berikut :

Jam 07.00-09.00 oleh Umat Katholik.
Jam 09.00-11.00 oleh Umat Protestan
Pada tahun 1976 Umat Katholik telah memiliki tempat ibadah sendiri dengan nama Gereja “Santo Yoseph” Kuta, sehingga praktis tidak lagi menggunakan Gedung Gereja “Oikumene” sebagai tempat beribadah.
Sejak saat itu sesuai persetujuan/ kesepakatan dengan pengurus pihak Umat Katholik, Sdr. R. Mulyadi, Gedung Gereja Oikumene dapat dipergunakan sepenuhnya oleh Jemaat GPIB Tuban-Kuta.

BADAN PEMBANTU.

Semenjak pembentukan Jemaat GPIB Tuban-Kuta tahun 1970, telah terbentuk Badan Pembantu Bidang Khusus Kebak-tian Anak-Kebaktian Remaja (KAKR) dengan Ketua Sdr. A.A. Priyo Santoso.

Berdasarkan hasil Persidangan Sinode di Pandaaan Jawa Timur pada tahun 1976, BPK-KAKR di Jemaat GPIB Tuban-Kuta di pecah menjadi 2 (dua) B.P.K pada tahun 1986 yaitu :
BPK Persekutuan Anak dengan Ketua Sdr.Yunus Giri.
BPK Persekutuan Teruna dengan Ketua Sdr. Umbu Dongu Ubinemesa.

Atas prakarsa Ibu-ibu Jemaat GPIB Tuban-Kuta, pada tahun 1975 dibentuklah Badan Pembantu Bidang Kategorial Persatuan Wanita dengan Ketua Ibu. Ch. Mita.

Pada tahun 1976, pemuda- pemudi Jemaat GPIB Tuban-Kuta sepakat membentuk Badan Pembantu Bidang Kategorial Gerakan Pemuda dengan Ketua Sdr. R.I. Karamoy.

Sedangkan Badan Pembantu Bidang
Kategorial Pesekutuan Kaum Bapak baru dibentuk tahun 1989 dengan Ketua Sdr. C. Sabandar.

PELEMBAGAAN /PENDEWASAAN

Selama berstatus sebagai Jemaat yang ber-naung dibawah Jemaat GPIB Maranatha Denpasar, istilah yang semula disebut Cabang Tuban-Kuta mengalami perubahan menjadi Bagian Tuban-Kuta dan yang terakhir menjadi Wilayah Pelayanan Tuban-Kuta.
Sejalan dengan meningkatnya kegiatan pariwisata dikawasan kecamatan Kuta yang ditandai dengan pertumbuhan sarana dan usaha pariwisata seperti perhotelan, biro perjalanan, restauran, pertokoan dan lain sebagainya, maka jumlah penduduk khususnya pendatang dari luar Pulau Bali juga bertambah. Situasi ini menyebabkan jumlah anggota jemaat yang berdomisili diwilayah pelayanan jemaat GPIB Tuban-Kuta juga meningkat dari tahun ke tahun.
Melihat kondisi yang berkembang sedemikian rupa serta sebagai antisipasi terhadap prospek masa depan Jemaat GPIB Wilayah Pelayanan Tuban-Kuta, maka atas desakan dari Pendeta T. Inswiadji MTh yang pada saat itu menjadi Pendeta Jemaat di Gereja GPIB Maranatha Denpasar, mulailah dirintis persiapan untuk men-dewasakan/ melembagakan Jemaat GPIB Tuban-Kuta menjadi Gereja GPIB yang mandiri.

Pada bulan Agustus tahun 1987, Majelis Sinode menempatkan Pendeta K.F. Pattipeilohy STh sebagai Pendeta pertama dengan tugas mempersiapkan pelemba-gaan Jemaat GPIB Maranatha Wilayah Pelayanan “Oikumene” Tuban-Kuta.
Untuk melengkapi persyaratan/kriteria menjadi jemaat otonom, karena persya-ratan jumlah Jemaat sekitar 98 (sembilan puluh delapan) dan Gedung Gereja sudah dipenuhi, maka diadakanlah sebuah rumah untuk Pastori di jalan Kasuari no. 11 Kompleks Burung Tuban.

Pada tanggal 15 Nopember 1987 Ketua Majelis Sinode , Pendeta Simauw STh dan Sekretaris Umum Majelis Sinode, Pendeta S. Mandik STh berkenan meresmikan Pelembagaan Jemaat GPIB Tuban-Kuta dengan memakai nama Gereja GPIB “Ekklesia” Kuta karena mencakup seluruh wilayah kecamatan Kuta-Bali dan merupakan jemaat GPIB ke….
PERKEMBANGAN SARANA IBADAH

Pada mulanya Gereja “Oikumene” yang digunakan Jemaat GPIB Tuban-Kuta memiliki luas bangunan 96 m2 atau 8 m x 12 m terdiri atas :
– 2 (ruang) Ruang Konsistori ter-pisah disebelah kiri dan kanan yang masing-masing berukuran 2m x 2m atau 4 m2
– Mimbar untuk Khotbah dengan ukuran 2m x 4m atau 8 m2.
– Tempat duduk Majelis di kiri dan kanan Mimbar dengan ukuran 2m x 2m atau 8 m2.
– Ruang untuk jemaat dengan ukuran 6m x8 m atau 48 m2.
– Teras terbuka disebelah kiri dan kanan gereja dengan ukuran 2 x 1m x 12 m atau 24 m2.
Penggunaan Gereja untuk Ibadah hanya 1 (satu) kali setiap minggu dimulai jam 09.00.

Dengan bertambahnya jumlah jemaat yang hadir dan terdaftar, maka pada tahun 1985 teras disebelah kiri dan kanan Gedung Gereja diperlebar 1m menjadi 2 x 2m x 12m atau 48 m2 dan diberi atap serta untuk kegiatan sekretariat dibangunlah ruangan dengan ukuran 2m x 2m atau 4 m2 yang saat ini digunakan oleh Koster Gereja.

Sementara itu, manajemen Bandar Udara Ngurah Rai pada tahun 1987 membangun Gedung “Sekretariat Bersama” untuk kegiatan adminsitrasi perkantoran Rumah-rumah Ibadah yang sudah dibangun yang terdiri atas 4 (empat) ruangan dengan pembagian penggunaan sebagai berikut :
– 1 (satu) Ruang digunakan oleh Umat Islam,
– 1 (satu) Ruang digunakan oleh Umat Kristiani,
– 1 (satu) Ruang digunakan oleh Umat Hindu dan
– 1 (satu) Ruang untuk digunakan bersama sebagai Ruang Tamu.
Akan tetapi setelah mengamati bahwa Gedung “Sekretariat Bersama” ini lebih sering digunakan oleh umat Kristiani, maka dengan kesepakatan bersama dalam rapat Seksi Kerohaian dari organisasi PORKESRA milik Bandar Udara Ngurah Rai, maka mulai tahun 1988 umat Kristiani diijinkan memper-gunakan 2 (dua) ruangan untuk kegiatan sekretariat Gereja dan ruang kerja Pendeta.

Dengan semakin berkembangnya kegiatan pariwisata di pulau Bali, khususnya pertambahan sarana diwilayah Kuta-Legian maupun Jimbaran-Nusa Dua serta ditunjang pula dengan adanya pelayanan oleh Pendeta Jemaat setelah pelembagaan jemaat, maka semakin terasa perlunya gedung gereja dimekarkan mengingat semakin bertambahnya jumlah jemaat sekalipun jam ibadah telah dibuat 2 (dua) kali yaitu jam 09.00 dan jam 18.00.
Oleh sebab itu diawal tahun 1994 Majelis Jemaat mewujudkan pemekaran Gedung Gereja “Ekklesia” Kuta lagi sehingga memiliki luas bangunan 216 m2 atau 12m x 18m terdiri dari :
– Ruang Konsistori dengan ukuran 2m x 10m atau 20 m2.
– Mimbar Khotbah dan Tempat duduk untuk Majelis dengan ukuran 3m x 10m atau 30 m2.
– Ruang untuk jemaat dengan ukuran 13m x 10m atau 130 m2.
– Teras beratap disebelah kiri dan kanan Gedung dengan ukuran 2 x 1m x 18m atau 36 m2.
Peresmian selesainya pemekaran Gedung Gereja ini dilaksanakan bersamaan dengan peneguhan pada Jabatan Pendeta atas Vikaris Vinny Tanamal STh pada tanggal 13 Nopember 1994 oleh Ketua III Majelis Sinode Pendeta Mengko STh.

Kondisi inipun rupanya dirasakan masih belum mencukupi dilihat dari tingkat kehadiran jemaat yang terus bertambah, sehingga pada tahun 2000 dibuatlah Teras tambahan tertutup, Gudang penyimpanan barang dan Pendopo untuk menampung kehadiran jemaat dan untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan lainnya