GKJ DAYU

Posted on April 20, 2010 oleh

1


SEKILAS TENTANG GEREJA
Gereja Kristen Jawa Dayu sebelum didewasakan adalah salah sebuah pepanthan dari GKJ Sawokembar Gondokusuman. Pepanthan ini berdiri pada tahun 1959 dan diberi nama sesuai dengan nama desa tempat kebaktian dilaksanakan. Kini, setelah didewasakan pada tanggal 31 Oktober 1993, sebuah gedung gereja yang megah berdiri di desa Pusung, Kelurahan Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, namun kata “Dayu” tetap melekat pada namanya seperti semula.

Keberadaan Pepanthan Dayu sejak awal telah mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah, misalnya pemerintah Kelurahan Sinduharjo telah mengizinkan pemakaian sebidang tanah kas desa di Pusung yang di atasnya kemudian dibangun gedung gereja. Beberapa waktu setelah itu dicapai pula persetujuan pelaksanaan tukar guling atas tanah yang dipakai tersebut, sehingga saat ini tanah tersebut sudah menjadi milik gereja sepenuhnya.

Setelah pepanthan ini berusia hampir 33 tahun – usia yang cukup tua bagi sebuah pepanthan – timbullah keinginan warga untuk mewujudkan kerinduannya menjadi jemaat dewasa. Keinginan ini rupanya mendapat tanggapan yang baik dari gereja induk. Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman kemudian mengusulkan keinginan tersebut ke Klasis Yogyakarta Selatan GKJ. Sebagai tindak lanjutnya, klasis mengadakan visitasi ke Pepanthan Dayu pada tanggal 1 April 1993, dan pada Sidang Klasis Yogyakarta Selatan tanggal 7 Juli 1993 diputuskan bahwa Pepanthan Dayu layak untuk didewasakan.

Latar Belakang Berdirinya Pepanthan Dayu
Kegiatan persekutuan di Dayu bermula melalui kegiatan kerohanian sekelompok pemuda Dusun Ngenthak dan Dayu di Kecamatan Ngaglik, yang sebagian merupakan pelajar SGB Bopkri Yogyakarta pada era 1950-an. Mereka merupakan benih-benih jemaat Tuhan yang telah disebarkan di daerah itu.

Persekutuan dan kebaktian keluarga pada waktu itu dilakukan di rumah keluarga bapak Tjiptosudarmo di dusun Dayu. Bapak Tjiptosudarmo dan keluarganya adalah warga GKJ Sawokembar Gondokusuman. Jarak antara dusun Dayu dan Gondokusuman pada waktu itu terasa cukup jauh, karena alat transportasi yang digunakan hanyalah sepeda.

Atas prakarsa bapak Yakob Sardi K dan bapak Prabowo, diadakan pertemuan dengan Majelis GKJ Gondokusuman yang diwakili Pdt. Soelarso Sopater dan Tua-tua Emanuel Sunardi. Dalam pertemuan tersebut diputuskan untuk melaksanakan katekisasi di Ngen¬thak setiap hari Jumat sore yang dilayani Pdt. Soelarso Sopater, dan kemudian hari dilanjutkan oleh Pdt. Sardjuki Kertatenaja dan bapak Yakob Sardi K.

Dengan pembinaan tersebut maka benih-benih yang disebar di Ngenthak semakin tumbuh dan berkembang. Mereka semakin menyadari pentingnya persekutuan dalam bentuk kebaktian minggu di gereja. Gereja yang terdekat adalah GKJ Sawokembar Gondokusuman, dan cara yang paling efisien untuk ke sana adalah dengan bersepeda, sementara tidak semua pemuda memiliki sepeda sendiri. Hal itu dirasakan sebagai kendala, padahal kerinduan untuk mengikuti kebaktian di gereja semakin besar. Peristiwa lain yang perlu diketengahkan menjelang berdirinya Pepanthan Dayu adalah perayaan Natal di Ngenthak yang dihadiri oleh orang-orang Kristen yang berdomisili di Ngenthak dan Dayu dan tamu undangan lainnya.

Perayaan ini memiliki makna penting dalam menumbuhkembangkan iman mereka, sehingga keinginan dan kerinduan bersekutu dalam wujud bergereja dari orang-orang Kristen tersebut semakin kuat. Untuk mewujudkan kerinduan tersebut, maka diadakan pembicaraan di antara pihak-pihak berkepentingan yang dihadiri juga oleh Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman. Dari pembicaraan tersebut dicapai kesepakatan membentuk sebuah pepanthan dibawah naungan gereja induk GKJ Sawokembar Gondokusuman dengan tempat kebaktian di rumah bapak Tjiptosudarmo di dusun Dayu.

Pepanthan ini kemudian dikenal dengan nama Pepanthan Dayu. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1959 dan menjadi tonggak sejarah berdirinya Pepanthan Dayu GKJ Sawokembar Gondokusuman.

Perkembangan Pepanthan Dayu Tahun 1959-1985

Pada saat berdirinya pepanthan ini merupakan pepanthan kecil, jumlah warga dewasa tidak lebih dari 20 orang. Tempat kebaktian berupa rumah pribadi yang relatif sederhana, berkapasitas 60 orang. Sebagai pepanthan maka pengembangan dan pembinaan rohani warga dilakukan oleh gereja induk. Adapun yang melayani kegiatan-kegiatan tersebut adalah Pdt. Sardjuki Kertatenaja, S.Th., Pdt. Santosa Hardjoprajitna, Sm.Th., dan lain-lain. Majelis yang bertugas di pepanthan ini adalah bapak KRT. Yudaningrat, bapak Dibyowarsito, bapak Widiarso, dan bapak Wagiman, sedangkan bapak Apolonius dan bapak Irmadi keduanya guru Injil melayani katekisasi.

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah warga semakin bertambah. Mereka berasal dari desa-desa sekitarnya antara lain dari Gentan yang dimotori oleh bapak Yakobus Ahmad Zaenal, dari Sedogan diprakarsai oleh bapak Wusono. Mereka membawa serta keluarga dan saudara-saudaranya. Kemudian masuk pula para pemuda dari Jagalan, Donoharjo, Pusung, Banteng dan lain-lain yang masing-masing diikuti oleh keluarga dan saudaranya.

Penting juga disebutkan peran bapak Atmowinoto dalam mengembangkan pepanthan ini. Beliau bercita-cita agar warga Pepanthan Dayu menjadi orang Kristen yang mandiri, dewasa, dan memiliki gedung gereja sendiri. Untuk merealisasikan kebutuhan akan tempat kebaktian yang memadai dan dapat menampung warga dalam kegiatannya melaksanakan kehidupan bergereja, maka dalam pertemuan pada tanggal 15 Fabruari 1983 di rumah bapak Yakobus Ahmad Zaenal di Gentan, dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Gereja dengan ketua bapak Emanuel Subardi, dibantu oleh bapak-bapak Widiyoto, Harun Suryani, Wusono, Y.A. Zaenal, Kuwat Santosa, Sihur Hartono, dan Darsono.

Semua warga menyadari bahwa pembangunan ini merupakan pekerjaan yang memerlukan biaya besar, sedangkan panitia tidak memiliki modal yang cukup. Oleh sebab itu pembangunan direncanakan secara bertahap disertai keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan dalam pekerjaan ini. Luas bangunan yang direncanakan adalah 200 m2 dan biaya yang diperlukan diperkirakan mencapai Rp 20 juta dengan jangka waktu penyelesaian sepuluh tahun. Dengan bantuan Pemerintah Kelurahan Sinduharjo jemaat memperoleh izin menggunakan sebidang tanah kas desa sebagai lahan untuk dibangun, terletak di Dusun Pusung. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada akhir tahun 1983 oleh Pdt. R. Dj. Hadisiswojo. Pada tanggal 26 Mei 1985 gedung gereja tersebut secara resmi digunakan untuk kebaktian, walaupun penyelesaiannya belum sempurna.

Pada waktu itu jumlah warga dewasa sudah mencapai 70 orang. Sejak itu tempat kebaktian Pepanthan Dayu pindah dari Dayu ke gedung baru di Pusung. Walaupun tempat kebaktiannya tidak lagi di Dayu, pepanthan ini tetap menggunakan nama Pepanthan Dayu.

Perkembangan Pepanthan Dayu Tahun 1985-1993

Sejak menempati gereja yang baru terlihat adanya perkembangan yang ditandai dengan banyaknya kegiatan dalam kehidupan bergereja dan semakin bertambahnya jumlah warga. Pada awalnya dirasakan bahwa letak gedung gereja ini kurang strategis terletak 500 meter dari jalan raya melewati jalan tidak beraspal.

Di depan gereja terdapat satu petak sawah milik warga yang menghalangi akses ke jalan, sehingga untuk sampai ke gereja harus melewati gang kecil di samping gereja. Atas berkat Tuhan jualah akhirnya tanah di depan gereja dapat dibeli, hingga akhirnya gereja langsung berhadapan dengan jalan dan memiliki halaman yang luas.

Dengan dibangunnya kompleks perumahan di sekitar gereja oleh beberapa developer, maka orang-orang Kristen yang tinggal di perumahan tersebut tertarik untuk mengikuti kebaktian dan menjadi warga Pepanthan Dayu. Pada tahun 1993 jumlah warga Pepanthan Dayu sudah mencapai 86 kepala keluarga yang meliputi 350 jiwa, terdiri atas 235 warga dewasa dan 115 anak-anak. Demikian juga kegiatan dalam kehidupan bergereja semakin meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Perkembangan ini mendapat perhatian dari gereja induk. Oleh karena itu sejak Mei 1989 pepanthan ini diberi mandat untuk mengelola keuangan gereja dan segala aktivitas menyangkut kehidupan bergereja sebagai langkah menuju pendewasaan. Selanjutnya dibentuklan Panitia Persiapan Pendewasaan Pepanthan Dayu untuk melakukan kegiatan-kegiatan ke arah pendewasaan yang menyangkut bidang kerohanian, prasarana fisik, administrasi, dan keuangan, dengan melibatkan semua komisi khususnya, dan semua warga umumnya.

Setelah semua persiapan dirasa cukup, maka pada tanggal 7 Februari 1993 dibentuklah Panitia Pelaksana Pendewasaan Pepanthan Dayu yang kemudian disem¬purnakan pada tanggal 20 Agustus 1993. Sementara itu Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman mengusulkan rencana pendewasaan ke Klasis Yogyakarta Selatan GKJ, ditindaklanjuti dengan mengadakan visitasi pada tanggal 1 April 1993.

Dalam sidangnya tanggal 7 Juli 1993 Klasis Yogyakarta Selatan GKJ memutuskan bahwa Pepanthan Dayu layak untuk didewasakan. Peresmian pendewasaan dipilih dan dilaksanakan pada hari reformasi 31 Oktober 1993.

Gereja Kristen Jawa Dayu saat ini

Perkembangan GKJ Dayu, baik fisik maupun non-fisik setelah pendewasaan dapat dikatakan cukup pesat. Segera setelah didewasakan maka dibentuklah panitia pemanggilan calon pendeta. Dari beberapa calon yang ada maka pilihan akhirnya jatuh pada Martana Pancahadi, S.Th. Ujian peremtoir dilaksanakan pada Sidang X Klasis Yogyakarta Utara GKJ 15 April 1998 dan pentahbisannya dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 1998.

Setelah itu Majelis juga memanggil seorang tenaga kantor dan seorang koster untuk melaksanakan tugas-tugas administrasi dan pelayanan kerumahtanggaan.

Pembangunan fisik yang dilakukan meliputi pembangunan gedung serbaguna, pembangunan rumah pastori, renovasi gedung gereja, pembangunan tempat parkir sepeda motor dan area parkir mobil. Kegiatan sosial juga berjalan pesat. Komisi Pelayanan dan Majelis Diakonia mengkoordinasikan pemberian bantuan kepada warga rimatan, pemberian beasiswa kepada anak warga yang bersekolah di tingkat SD, SMP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.

Disamping itu dibentuk pula paguyuban pangruktilaya ‘Lazarus’ yang memberikan pelayanan bagi warga dan keluarga yang meninggal dunia. Untuk melayani warga dan masyarakat sekitar gereja di bidang kesehatan, dibentuk pula poliklinik yang sementara hanya buka pada hari minggu. Kegiatan komisi juga berjalan semarak, terutama komisi-komisi bermassa atau komisi kategorial. Beberapa sub-kegiatan dibawah Komisi Kesaksian dan Komunikasi Massa memperkenalkan GKJ Dayu di masyarakat luas lewat penampilan Paduan Suara ‘Sabawa Adhi’, Orkes Keroncong ‘Gita Sabda’, Kelompok Karawitan dan Kelompok Macapat pada even-even tertentu, ikut dalam perlombaan-perlombaan, dan di siaran radio.

Untuk meningkatkan pelayanan dan pengetahuan pendeta jemaat, maka mulai tahun 2007 dengan biaya dari gereja, Pdt. Martana Pancahadi, S.Th. melaksanakan pendidikan lanjutan tingkat pasca sarjana di UKDW dalam program M.Min.

Pada mulanya GKJ Dayu dibagi atas 4 wilayah yang merupakan kelompok pemahaman Alkitab (Pakempalan Panyuraos Kitab Suci, PPKS), namun karena pertambahan jumlah warga yang pesat maka kelompok tersebut berkembang menjadi lima kelompok yaitu: PPKS Wilayah I ‘Tabhera’, PPKS Wilayah II ‘Betania’ PPKS Wilayah III ‘Siloam’, PPKS Wilayah IV ‘Galilea’, dan PPKS Wilayah V ‘Filadelpia’.

Sampai Desember 2006 jumlah warga jemaat GKJ Dayu tercatat 721 orang, meningkat lebih dua kali lipat dari jumlah warga pada saat pendewasaan. Perinciannya adalah dewasa laki-laki 232 orang, dewasa perempuan 265 orang, anak laki-laki 89 orang, dan anak perempuan 135 orang.

(Ditulis kembali oleh AKOR TARIGAN dari data-data pada
(i) Buku Kenangan Pendewasaan Pepanthan Dayu GKJ Sawokembar Gondokusuman, 1993 dan
(ii) Bahan Sidang Majelis terbuka GKJ Dayu 1994-2007)

* tulisan ini ditampilkan kembali dari  gkj.or.id

Posted in: Yogya