Keuskupan Sintang

Posted on Juli 25, 2010 oleh

0


ALAMAT
Jalan A. Yani 8, Kotak Pos 30-31,
SINTANG 78611 – KALIMANTAN BARAT
Telp. (0565) 21213
Fax. (0565) 21940
Website. http://www.keuskupansintang.com

STATISTIK
Denominasi gereja:
Jumlah wilayah pelayanan: Sintang dan Kampuas Hulu
Jumlah paroki: 36 Paroki
Jumlah anggota jemaat: 130.966 jiwa
Jumlah hamba Tuhan: 36 Imam

BADAN PENGURUS
Uskup: Agus Agustinus, Mgr.
Vikariat Jendral: Miau, Leonardus
Ekonom: Abong, Florianus

TENTANG GEREJA
Wilayah Keuskupan Sintang, yang terletak di bagian hulu Sungai Kapuas dan Sungai Melawi, meliputi dua Kabupaten dari Propinsi Kalimantan Barat, yaitu Kabupaten Sintang dan Kabupaten Kapuas Hulu. Wilayah yang luasnya 65.000 km2 ini hanya mempunyai hubungan melalui sungai dan jalan setapak. Kecuali sedikit di sekitar Sintang, yang walaupun amat darurat, punya hubungan darat yang dapat dilalui oleh jeep dan sepeda motor.

Dilihat dari jumlah prosentase jumlah umat, Gereja di Keuskupan Sintang mempunyai potensi yang amat besar. Potensi yang nampak dalam statistik lama dan masih seakan-akan tersembunyi. Sebagian besar penganut Katolik di Keuskupan ini adalah Suku Dayak. Mata pencarian mereka adalah ladang berpindah, kebun karet, dan hasil hutan lainnya. Dari semua sumber tersebut, penghasilan mereka rata-rata cukup rendah. Karena itu prosentase yang membesarkan hati, yang cukup mengejukan masyarakat pada umumnya dan juga Gereja, selain memberi banyak harapan juga menyodorkan tantangan-tantangan.

SEJARAH GEREJA
1884
Gereja di Keuskupan Sintang dimulai dari sebuah “biji” yang betul-betul kecil dan hampir tidak kelihatan, yakni wilayah Sejiram. Ketika seluruh Nusantara masih di bawah satu Vikariat Apostolik Jakarta, sudah ada maksud mendirikan karya misi di antara orang-orang Dayak. Dalam surat Vikaris Apostolik dari Batavia tertanggal 25 Pebruari 1884, dengan nomor 178, Mgr. Claessens memberitahu tentang pertemuannya dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Buitenzorg (bogor), yang menyatakan kemungkinan pemerintah Belanda memberi daerah Borneo bagi Misi Katolik. Dalam surat itu juga dinyatakan bahwa dalam penjajakannya yang terakhir di Borneo ada kesan cukup baik akan kemungkinan penerimaan orang Dayak terhadap Misi Katolik.

1884
7 Agustus
Ijin untuk memulai bekerja di antara orang Dayak diberikan, mula-mula di daerah-daerah yang langsung di bawah pemerintah Belanda, yakni di Sambas, Mempawah dan Sintang. Pater Staal beberapa kali mengadakan perjalanan untuk meninjau situasi. Beliau menganjurkan supaya misi dimulai di antara orang-orang Dayak yang diam di sekitar Bengkayang, khususnya di kampung Sebalau. Dearah itu tidak terlalu jauh dari Singkawang, sehingga Pastor Singkawang dan Pastor Sebalau dapat mudah berhubungan. Residen Gijbers dari Pontianak menganjurkan supaya Pater Staal mengunjungi juga daerah-daerah lain: lima hari mudfik dengan motor-boat dari Pontianak. Daerah itu adalah Semitau, pusat orang-orang Dayak dari Suku Rambai, Seberuang dan Kantuk. Pater Staal punya kesan baik terhadap orang-orang Dayak di sekitar Semitau. Namun mengingat jumlah mereka yang hanya sekitar 1500 orang, dan perjalanan yang sulit sekali, sehingga Pater Staal tetap pada nasehatnya: pilihlah Sebalau.

Dalam pertimbangan selanjutnya ternyata Sebalau tidak dipilih, karena terletak dalam daerah kekuasaan Sultan Sambas dan tidak ada jaminan bahwa pejabat-pejabatnya yang semuanya Islam tidak akan menghalangi karya misi di antara orang-orang Dayak yang masih animis. Dengan demikian, pilihan jatuh pada Semitau, tempat kedudukan seorang Kontrolir yang membawahi daerah Kapuas Hulu. Residen Sintang menyetujui rencana itu dan menyatakan bahwa Suku Seberuang, Rambai dan Kantuk cukup taat pada Pemnerintah Belanda dan mereka bersedia menerima Misi Katolik.

1890
14 Juni
Surat dinas nomor 252, yang dikeluarkan berdasarkan Surat Dinas Kabinet tanggal 29 Juli 1889, nomor 7, yang menyetujui Misi Katolik berkarya di antara orang-orang Dayak dengan tempat kedudukan Semitau, Pastor Looymans diutus menjadi misionaris pertama bagi orang Dayak.
29 Juli
Pastor H. Looymans tiba di Semitau.Kemudian ternyata Semitau bukan tempat yang strategis bagi karya misi. Karena orang Dayak tidak tinggal di Semitau, tetapi di daerah sekitarnya. Hanya sesekali mereka datang ke Semitau Desa yang merupakan pusat perdagangan bagi daerah sekitarnya. Penduduknya sendiri hanya terdiri dari orang-orang Cina dan Melayu. Dengan demikian, kontak yang mendalam dengan orang Dayak hampir tidak mungkin. Maka pada tahun 1892 Pastor Looymans dijemput dan dibawa ke Sejiram oleh Babar, Bantan dan Unang, tiga bersaudara dari Sejiram. Di atas tanah kosong yang agak berbukit di pinggir Sungai Seberuang, tidak jauh dari Nanga Sejiram, Pastor Looymans membangun rumah. Tempat itu terletak di antara 4 kampung orang Dayak. Jarak setiap kampung sekitar lima menit berjalan kaki. Di tempat itu kemudian dibangun gereja, sekolah dan pondok untuk anak-anak sekolah. Dalam waktu tujuh bulan Pastor Looymans sudah mempermandikan 58 orang anak. Di sini pun, seperti di tempat lain, harapan terutama terletak pada anak-anak muda.

1893
Pastor Looymans yang sendirian dan kurang terpelihara hidupnya dibantu oleh Pastor Mulder. Sayang karya mereka tidak dapat bertahan lama. Daerah yang baru dirintis itu hanya dapat dilayani beberapa tahun saja.

1898
Sejiram terpaksa harus ditinggalkan, karena tenaga mereka diperlukan di tempat lain yang lebih mendesak.

1900
Pastor Schrader sekali lagi mengunjungi Sejiram namun tidak menetap.

1906.
Sejiram dikunjungi lagi oleh beberapa Pastor yang kemudian menetap dan mulai dari saat itu Penginjilan di Sejiram semakin berkembang.

About these ads
Ditandai: ,