Anabaptis

Anabaptis / Menonite / Amish

TENTANG ANABAPTIS
Anabaptis (Yunani: ανα βαπτιζω – dibaptis kembali) adalah orang Kristen yang dimasukkan ke dalam kategori Reformasi bersayap yang lebih radikal dari Lutheranisme maupun Kalvinisme, dan berada lebih jauh dari definisi umum iman kekristenan daripada cabang kekristenan yang lain. Mereka tidak memiliki suatu organisasi yang resmi dan memiliki berbagai-bagai variasi. Sepanjang sejarah ada banyak kelompok Kristen yang disebut sebagai Anabaptis, namun istilah Anabaptis khususnya menunjuk kepada kelompok Anabaptis pada abad ke-16 di Eropa.

  • AWAL KEMUNCULAN
  • AJARAN POKOK
  • TATA IBADAH DAN CARA HIDUP
  • PERKEMBANGAN DI DUNIA
  • JALAN MASUK KE INDONESIA
  • PERKEMBANGAN DI INDONESIA
  • INSTITUSI DAN ORGANISASI

    AWAL KEMUNCULAN ANABAPTIS
    Kapan tepatnya Anabaptis berawal, tidak dicatat dalam sejarah. ada yang mengatakan bahwa beberapa kelompok Anabaptis kemungkinan berasal dari gerakan-gerakan sesat (heretikal) sebelum abad ke-16. Ada pula dari antara mereka yang mengaku merupakan kelanjutan tak terputuskan dari kekristenan pada abad pertama, namun tidak sama dengan suksesi kerasulan yang diklaim oleh Paus gereja Katolik. Namun hal ini belum terbukti secara ilmiah dan diterima secara umum. Jika memang merupakan suatu kelanjutan banyak sekali terjadi perbedaan di antara mereka.

    Namun salah satu pusat gerakan Anabaptis mula-mula yang dicatat dalam sejarah adalah pada abad ke-16 di Zürich, kota tempat kontribusi besar Zwingli terhadap Gereja Reformasi. Gerakan ini dipimpin oleh Konrad Grebel dan Felix Manz, dua orang putra keluarga terpandang. Pada masa Grebel bersekolah di Basel, Wina, dan Paris, ia dipengaruhi oleh ideologi humanisme yang populer pada masa itu. Sekembalinya ke Zürich, ia dan Zwingli berkenalan.

    Perpindahan keyakinannya terjadi pada 1522-1523, namun detilnya tidak diketahui. Dari luar ia merupakan seorang teman yang baik dan pengikut ajaran reformasi yang sungguh-sungguh. Pada musim gugur 1523 ia mulai berpisah dari Zwingli. Zwingli tidak mau mendesak lebih lanjut dalam penghapusan misa dan penggunaan gambar di dalam gereja kepada dewan kota, sedangkan Grebel percaya bahwa otoritas sipil tidak seharusnya mengatur gereja.Grebel pun berkumpul dengan orang-orang yang kemudian disebut sebagai Kelompok Persaudaraan Swiss. Mereka mengingini Gereja direformasi dengan tidak tanggung-tanggung, lebih dari yang diajarkan Zwingli dan Luther. Mereka menghubungi Carlstadt yang merupakan salah satu tokoh radikal yang bertindak lebih jauh dari Luther, namun tidak berhasil. Kemudian kepada Thomas Müntzer yang cenderung lebih mengutamakan kekerasan.

    Di wilayah Swiss dan bagian barat daya Jerman, dasar Kitab Suci untuk baptisan anak mulai dipertanyakan. Pada musim gugur 1524 Grebel dan rekan-rekannya mulai menolak baptisan anak dan juga penolakan terhadap perpuluhan yang dikumpulkan oleh negara untuk membiayai para pendeta (minister) dan untuk “riba”, namun konflik yang timbul dengan otoritas Zürich terutama dari kepercayaan atas baptisan anak. Pada Januari 1525, dewan kota memutuskan untuk membela praktek baptisan bayi dan memerintahkan Grebel dan kolompok Persaudaraan untuk menghentikan gerakan mereka. Meksipun diperintahkan demikian oleh dewan kota, Grebel dan rekan-rekannya tetap saja membaptis orang. Kelompok Persaudaraan tersebut juga melakukan Perjamuan Kudus dengan ritual yang sangat sederhana.

    Dengan semangat penginjilan yang bernyala-nyala, Grebel berpindah dari satu kota ke kota lain. Ia mulai mendapat dukungan di Schaffhausen. Kemudian ia ke Waldshut tempat tinggal Balthasar Hübmaier yang merupakan rekan sepikirannya. Di tempat lain seperti di St. Gall, Grebel dan rekan-rekannya mendapat sambutan yang antusias. Meskipun demikian, Grebel, Manz, dan lain-lain ditangkap, diadili oleh otoritas sipil di Zürich, dan dihukum penjara seumur hidup karena tidak menaati keputusan dewan kota. Setelah beberapa bulan mereka berhasil melarikan diri. Manz yang tertangkap kembali dihukum mati dengan cara ditenggelamkan (25 Januari 1527), rupanya merupakan martir pertama bagi gerakan Anabaptis. Grebel telah meninggal beberapa bulan sebelumnya.

    Balthasar Hübmaier, seorang lulusan universitas, pendeta, pengkotbah yang handal dan mantan murid Eck yang berdebat dengan Luther di Leipzig pada 1523 telah menjadi penganut ajaran Refomasi. Dengan perpindahan keyakinannya, ia turut membawa beberapa paroki yang dipimpinnya di Waldshut. Mula-mula ia bersahabat dengan Zwingli dan rekan-rekannya kemudian pada 1525 ia menolak baptisan anak. Pada tahun yang sama ia dibaptis dan pada Paskah tahun itu juga ia membaptis sekitar tiga ratus orang dan dilanjutkan dengan baptisan lainnya, Perjamuan Kudus, dan pencucian kaki. Selama beberapa waktu ia berada di Zürich dan di sana ia dipenjara dan disiksa. Setelah dilepaskan, ia pergi ke Nikolsburg di Moravia dan berkotbah disana. Ia ditangkap oleh perintah Duke Agung Ferdinand dari Austria, dibawa ke Wina, diadili, dinyatakan bersalah, dan dibakar (10 Maret 1528).

    Pada 1520-an pandangan Anabaptis menyebar dengan cepat dan luas di bagian Swiss yang berbahasa Jerman, Austria, dan tenggara Jerman. Strassburg merupakan salah satu pusat awal yang penting dan di barat laut pandangan Anabaptis mulai mengalami kemajuan di Negara-negara Bawah (bawah delta sungai Rhein, Scheldt, dan Maas). Di tempat-tempat lainnya jalan telah dipersiapkan untuk kepercayaan Anabaptis oleh kaum Sahabat Tuhan dan kelompok mistik abad ke-15 lainnya, dan kemungkinan juga oleh komunitas seperti Beguine dan Beghard.

    Misionaris bagi gerakan ini antara lain Melchior Hoffmann, seorang pengrajin kulit dari Livonia yang lahir di Swabia, berkelana luas di Baltik, Skandinavia, Negara-negara Bawah, dan Strassburg, berkotbah ke manapun ia pergi, dan di beberapa tempat mendapatkan pengikut dan mendirikan komunitas-komunitas. Namun bahkan Strassburgh yang toleran sekalipun tidak dapat mentolerirnya, dan ia akhirnya mati di dalam penjara di kota tersebut.

    Hans Denck, seorang sarjana humanis, lulusan dari Universitas Ingolstadt, dan selama beberapa waktu merupakan bagian dari kelompok Erasmus di Basel, dipengaruhi oleh Tauler, ia mahir berbahasa Yunani dan Ibrani. Pelayanannya antara lain di Nuremberg, St. Gall, Strassburg, Worms, dan Augsburg, dan pada usia tiga puluhan meninggal karena wabah di Basel.

    Salah satu teman Denck, yang juga merupakan teman Zwingli, Ludwig Hetzer dari Swiss, yang mendapat pendidikan humanis dan telah dipengaruhi secara mendalam oleh tulisan-tulisan mistik seperti Theologia Germanica, ia diusir dari Zürich karena ajaran Anabaptisnya. Selama beberapa bulan pada 1525 ia mengepalai kaum radikal di Augsburg, dan selama beberapa waktu berada di Basel di rumah Oecolampadius, di Strassburg sebagai tamu Wolfgang Capito yang seorang pengikut Zwingli dengan kecenderungan Anabaptis. mereka bekerja sama dalam menterjemahkan kitab-kitab nubuatan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Jerman, bersama dengan Denck dipaksa untuk meninggalkan Worms. dan pada awal 1529 diadili dan dieksekusi di Constance dengan dakwaan palsu yakni perzinahan.

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pengikut Anabaptis terdiri dari berbagai ragam. Mereka kebanyakan direkrut dari anggota masyarakat kelas bawah, namun mereka juga berhasil meyakinkan orang-orang terpelajar. Orang-orang tersebut kebanyakan berasal dari kawasan perkotaan, namun tidak dikelompok-kelompokkan menurut pemimpin tertentu. Bagi kebanyakan dari mereka penolakan baptisan bayi dan kepercayaan mereka atas baptisan orang percaya hanya merupakan suatu kebetulan. Beberapa sama sekali menolak penggunaan kekerasan, meskipun dalam bertahan melawan penganiayaan. Beberapa yang lain menginginkan penggunaan kekerasan. Beberapa, seperti Hans Hetz, yang mengganggu Hübmaier di Nickelsburg, memproklamirkan bahwa harinya Tuhan telah dekat, dan para orang-orang suci merupakan orang-orang pilihan yang, seperti keturunan Israel yang menaklukkan Palestina, bertugas untuk menyiangi orang-orang jahat sebelum pemerintahan Kristus didirikan di atas bumi.

    PENGANIAYAAN TERHADAP ANABAPTIS
    Pemimpin Katolik Roma, Lutheran, dan Zwinglian menganggap kaum Anabaptis sebagai orang-orang radikal yang berbahaya, yang mengancam timbulnya anarki di gereja dan negara. Di antara ketiganya ada beberapa yang berusaha menyingkirkan mereka dengan kekerasan. Di akhir 1520-an dan awal 1530-an, ratusan Anabaptis dibunuh, sebagian dengan cara ditenggelamkan, beberapa dipenggal, dan lainnya dibakar.

    Penganiayaan terhadap Anabaptis semakin meningkat karena mereka di yakini bertanggung jawab atas sebagian pemberontakan para petani tahun 1524-1525. Tuduhan tersebut memiliki alasan yang kuat. Thomas Müntzer merupakan salah satu otak di balik pemberontakan di Saxony. Ia dikategorikan sebagai Anabaptis, karena walaupun ia tidak terlalu mempersoalkannya sebagaimana Anabaptis yang lain, ia menolak baptisan bayi, dan menurut definisi Anabaptis secara inklusif ia dapat dikelompokkan dengan mereka. Tentunya orang-orang yang merasa was-was dengan ketertiban publik merasa perlu untuk bertindak dengan lebih bengis terhadap kaum Anabaptis karena besarnya ancaman yang didapat, melihat bahwa kebanyakan dari mereka berasal dari kelas yang kurang beruntung, sehingga dapat menimbulkan pemberontakan.

    Episode Münster
    Ketakutan terbesar para kritikus Anabaptis menjadi kenyataan dalam episode Münster pada 1533-1535. Münster, sebuah kota di Wesphalia, tidak jauh dari perbatasan Belanda, pada Abad Pertengahan merupakan anggota terkemuka Liga Hanseatik, merupakan pusat kedudukan seorang uskup. Di sana pada 1529 seorang pendeta (chaplain) muda bernama Bernhard Rothmann mulai mengkotbahkan tentang pembenaran karena iman. Ia berhasil meyakinkan banyak di antara massa tersebut yang  merasa tidak puas di bawah eksploitasi penguasa kaum gerejawan. Walaupun mendapat tentangan dari pihak uskup dan bangsawan-bangsawan di sekitarnya, kota tersebut dinyatakan menjadi Protestan dan didaftarkan ke dalam Liga Schmalkaldik. Namun Rothmann tidak pernah terlihat seperti seorang Lutheran, ia lebih dekat kepada Anabaptis. Pada 1533 ia telah menjadi yakin bahwa baptisan anak adalah salah. Karenanya ia menolak membaptiskan anak, maka tokoh-tokoh masyarakat setempat yang adalah Lutheran pun berusaha menjatuhkannya, namun terhenti karena ketenarannya yang jauh melampaui kekuasaan mereka. Pada sebuah debat di muka umum dengan seorang Lutheran dan seorang Katolik Roma, penduduk kota tersebut menyatakan Rothmann sebagai pemenangnya.

    Kemudian tersebarlah kabar bahwa Münster telah menjadi Anabaptis dan berbondong-bondong datanglah pengikut Melchior Hoffman ke kota tersebut. Hoffmann telah meramalkan bahwa setelah ia dipenjara dan setelah kematiannya ia akan kembali, pada 1533, bersama dengan Kristus di tengah-tengah awan di surga, dan orang-orang jahat akan dihakimi, dan Yerusalem Baru akan didirikan di Strassburg. Tahun 1533 berlalu dan Hoffman masih dipenjarakan, dan akhir zaman belum juga tiba. Salah satu imigran yang terkenal adalah Jan Matthys, seorang pembuat roti dari Haarlem, di Belanda, yang percaya bahwa dirinya adalah seorang nabi dan yang percaya bahwa di Münster-lah, bukan Strassburg, tempat didirikannya Yerusalem yang baru tempat orang-orang suci memerintah. Seorang yang lain adalah Jan Beukelssen, seorang penjahit dari Leiden. Para Anabaptis menguasai Münster dan di sana mereka berusaha untuk menciptakan suatu masyarakat Kristen menurut kepercayaan mereka. Sang Uskup Münster mengepung kota tersebut. Dengan bantuan pihak Lutheran dan Katolik ia mengambil alih kota tersebut (24 Juni 1535). Matthys tewas dalam pertempuran awal. Para pemimpin yang hidup termasuk Jan dari Leiden, disiksa dan dibunuh, dan kepemimpinan sang uskup dipulihkan kembali.

    Efek dari episode Münster tersebut adalah semakin buruknya nama Anabaptis. Laporan-laporan bertebaran tentang tindakan-tindakan ekstrem yang dilakukan oleh para fanatik Anabaptis selama bulan-bulan tersebut terhadap hak-hak milik pribadi, poligami, dan tekanan terhadap orang-orang yang melawan. Seperti biasanya laporan-laporan semacam itu semakin berkembang semakin mereka diceritakan dan diceritakan lagi, dan semakin lama semakin jauh dari kenyataannya. Sebenarnya hak milik pribadi tidak dihapuskan, dan walaupun beberapa pemimpinnya melakukan poligami, namun hukuman berat menanti bagi mereka yang berzinah dan yang bersetubuh di luar nikah. Walaupun hanya sebagian kecil dari kaum Anabaptis yang terlibat, terutama dari kelompok yang dihubungkan dengan Hoffmann, secara umum dipercayai, terutama di antara kelas penguasa dan kelas atas lainnya, bahwa semua Anabaptis menimbulkan kekacauan di pemerintahan, masyarakat, moral, dan agama.

    Menno Simmons dan kaum Mennonit
    Bagian Anabaptis yang terbesar yang selamat dari penganiayaan di daratan benua Eropa adalah kaum Mennonit. Mereka mendapatkan nama tersebut dari Menno Simons. Menno Simons dilahirkan di Negara-negara Bawah, disekolahkan sebagai calon pendeta, menguasai pengetahuan mendalam di bidang bahasa Latin dan sedikit di bidang bahasa Yunani, dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1524. Pada mulanya ia terlihat tidak berbeda dengan pemuka-pemuka agama lainnya pada masa itu yang umumnya materialistis. Belum setahun memangku jabatannya Menno Simons telah mulai ragu terhadap kemujaraban misa. Ia mulai mempelajari Kitab Suci secara mendalam pada saat penghukuman mati seorang Anabaptis di kampung halamannya Friesland Barat mengguncangkannya. Walaupun masih melayani sebagai seorang imam di Gereja Katolik Roma, namun ia berpendapat bahwa gereja tersebut, bersama Luther, Zwingli, dan Kalvin telah salah dalam mengadakan baptisan bayi, dan bahwa hanya baptisan orang percayalah yang memiliki kewenangan Kitab Suci. Namun ia juga menentang gerakan Anabaptis Münster dan percaya bahwa Hoffman dan pengikutnya telah salah dalam hal menggunakan pedang dan senjata untuk membela diri. Walaupun demikian, kepahlawanan mereka di bawah tekanan penganiayaan telah mengetuk pintu hatinya atas keputusannya menerima keimaman yang sejati. 30 Januari 1536, ia secara terang-terangan memutuskan diri dari hubungannya dengan ke-Katolikan Roma dan tidak lama sesudahnya ia dibaptis oleh Obbe Phillips, seorang Anabaptis yang sebelumnya dipengaruhi oleh Hoffmann tetapi yang tidak punya hubungan dengan gerakan Münster, seorang Anabaptis yang juga dikejutkan oleh klaim dari Matthys dan tokoh-tokoh lain di sekitarnya yang mengaku memiliki karunia bernubuat, dan berpegangan erat pada Kitab Suci. Menno Simons tahu bahwa langkahnya ini akan berujung pada penganiayaan.

    Perkiraan Menno Simons atas penganiayaan yang akan menimpa dirinya akhirnya benar-benar terjadi. Ia diangkat menjadi seorang pendeta Anabaptis, dikirim sebagai misionaris keliling untuk gerakan Anabaptis, dan selama bertahun-tahun tinggal di Belanda sebagai buronan dan orang yang dicari dengan ancaman hukuman mati. Namun demikian, ia menikah dan memiliki anak. Pada tahun 1543 ia memperluas usaha pengabaran Injilnya hingga ke Jerman, hampir selalu diiringi dengan penganiayaan yang mengancamnya baik dari pihak Katolik Roma maupun dari pihak Lutheran. Akhirnya ia menemukan tempat perlindungan di sebuah rumah bangsawan di Holstein, Denmark, yang terkesan akan keberanian kaum Anabaptis yang ia lihat sendiri mati secara martir, yang percaya bahwa mereka orang-orang yang tidak berbahaya, dan melindungi mereka. Di sana Menno Simmons tinggal selayaknya di rumahnya sendiri hingga akhir hayatnya, namun masih sering berkelana ke Belanda dan Jerman. Hingga pada saat kematiannya, melalui tulisan-tulisannya yang sangat banyak, kotbah-kotbahnya, pengaturan jemaat-jemaatnya, dan perjalanan-perjalanannya, ia telah menjadi seorang pemimpin Anabaptis yang ternama di Belanda dan Jerman Utara.

    Jumlah kaum Mennonit sangat banyak di Belanda, Bahkan lebih dari Gereja Reformasi, barangkali jumlah mereka merupakan mayoritas di antara orang-orang Protestan. Jumlah mereka juga berlipat ganda di berbagai bagian di Jerman. Mereka sulit untuk menyetujui suatu doktrin bersama, dan beberapa buah pengakuan iman telah mereka tulis. Kita mengetahui pengakuan iman yang bertanggal mulai dari 1577, 1579, 1582, 1591, 1600, dan 1627. Pengakuan Dortrecht, 1632, merupakan sebuah usaha untuk mempersatukan berbagai bentuk gerakan tersebut dan banyak digunakan di dalam jemaat Flemish (Flanders), Frisia, dan Alsace. Perbedaannya umumnya di sekitar tingkat hukuman yang diterima oleh anggota jemaat yang dikucilkan. Kaum Mennonit sangat peduli akan taraf hidup kekristenan yang tinggi dan untuk itu memberlakukan hukuman pengucilan bagi mereka yang dianggap bersalah di komunitas mereka.

    AJARAN ANABAPTIS

    • Kerajaan yang Kristus dirikan diatas bumi, atau jemaat yang kelihatan adalah merupakan sebuah kumpulan orang-orang kudus; oleh karena itu harus benar-benar bebas dari orang-orang yang fasik dan berdosa, maupun dari segala lembaga ciptaan manusia yang bertentangan dengan keillahian.
    • Alkitab adalah firman Allah yang sempurna dan tidak bercacat, didalamnya terdapat kisah-kisah yang menggambarkan manusia yang penuh derita sengsara, kengerian duniawi, kesedihan,  kecaman terhadap imam yang sesat, sementara juga berisi doa, pengharapan, hikmat, pengharapan kebangunan Rohani,  pemulihan orang Kristen, pikiran rohani yang merdeka namun sederhana. Dan di atas segala-galanya, adalah Injil yang terdapat didalam pribadi Yesus yang menderita sengsara dan merendahkan diriNya, sebuah kehidupan kerohanian ideal-sempurna yang sejati.
    • Baptisan hanya dilayankan kepada mereka yang telah bertobat dan sungguh-sungguh percaya bahwa dosa mereka telah dihapuskan oleh Kristus, dan mereka yang berjalan di dalam kebangkitan Yesus Kristus, dikuburkan bersama-Nya di dalam kematian-Nya, sehingga mereka akan dibangkitkan bersama-Nya kelak. sehingga baptisan anak adalah hal yang bertentangan dengan Kitab Suci, karena satu-satunya baptisan yang sah adalah yang dilakukan pada orang percaya yang memiliki kesadaran (orang dewasa).
    • Kredo (artikel) iman kepercayaan menyatakan Gereja sebagai gabungan satuan-satuan lokal orang-orang yang telah dibaptis sebagai orang percaya. Setiap satuan lokal memilih sendiri pemimpinnya dan disatukan oleh sebuah Perjamuan Kudus. Kredo kepercayaan juga menolak ibadah yang hanya sekedar formalitas saja yang hanya, yakni untuk tubuh jasmaniah saja.

    TATA IBADAH DAN CARA HIDUP

    • Mengenai bentuk baptisan, di mata mereka bukan merupakan hal yang terpenting. Bagi kebanyakan, bentuk yang mereka pakai bukanlah baptisan selam, melainkan baptisan percik.
    • Pengucilan diberlakukan bagi mereka yang telah dibaptiskan, tetapi kemudian jatuh ke dalam dosa dan telah diperingatkan sampai tiga kali.
    • Memecah roti adalah kesatuan oleh baptisan di dalam satu tubuh Kristus, yaitu Gereja Allah. Mereka yang ikut serta di dalam pekerjaan kuasa kegelapan tidak mempunyai tempat dalam pemecahan roti.
    • Kebanyakan Anabaptis tidak berurusan dengan negara. Beberapa terang-terangan menolak bekerja sama dengan negara. Banyak di antaranya yang percaya bahwa orang Kristen tidak selayaknya maju perang.
    • Mereka biasanya mengundurkan diri dari masyarakat dan membentuk komunitas tersendiri yang tidak terkontaminasi oleh dunia di sekitar mereka.
    • Bentuk kebaktian mereka sederhana. Pada zaman keemasannya gerakan ini menciptakan banyak himne baru. Beberapa di antara mereka menantikan hari terakhir dalam sejarah dan datangnya Yesus yang kedua kalinya untuk mendirikan kerajaan seribu tahunNya. Banyak yang percaya bahwa pada mereka digenapi nubuatan dan bahwa Roh Kudus terus memimpin dan berbicara. Beberapa menolak ketuhanan Yesus dan menganggapnya hanya sebagai pemimpin dan contoh. Banyak yang menjadi misionaris, tidak hanya untuk menarik orang Kristen ke ajaran mereka, melainkan juga mencita-citakan agar Injil dapat disebarkan kepada seluruh umat manusia.
    • Ajaran moral dan etika mereka sangat ketat dan tinggi. makanan, pakaian, dan perkataan mereka sangat sederhana dan dijaga, sehingga mereka mengeluarkan dari persekutuan mereka orang-orang yang tidak memenuhi standar mereka.
    • Mereka tidak percaya keselamatan dapat diperoleh melalui usaha manusia, namun mereka mengajarkan bahwa jika keselamatan tersebut murni, maka dengan sendirinya akan membuahkan perbuatan-perbuatan yang baik.
    • Kaum Anabaptis adalah orang-orang yang jujur, suka damai, mampu mengendalikan diri dalam hal makan dan minum, menjauhi bahasa dan kata-kata kasar, bermoral baik, lemah lembut, dan tidak memiliki rasa iri, tamak, dan sombong. Banyak di antara mereka sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol. Mereka bersungguh-sungguh berusaha untuk hidup menurut standar etika yang diajarkan Yesus dalam apa yang disebut sebagai Kotbah di Bukit. Usaha mereka hampir sama dengan biarawan Katolik, yakni sama-sama mencari kesempurnaan melalui komunitas yang terpisah dari dunia, namun mereka tidak hidup selibat seperti biarawan, melainkan menikah dan berkeluarga.
    • Sikap peribadatan yang keras terhadap masalah kuburan, pemakaian tata-cara ibadah tertentu didalam berdoa, menyanyikan pujian yang sama, tentang pelaksanaan Perjamuan, prinsip-prinsip dalam membangun jemaat, pakaian para rasul yang kelabu, para pengkhotbah yang berkelana, dalam hal memohon berkat dan banyak lagi hal-hal lain.
    • Pendeta haruslah memimpin jemaat sedemikian rupa sehingga orang tidak bisa menjelek-jelekkannya. Bila pendeta harus menerapkan disiplin, hal itu harus dilaksanakannya berdasarkan dua atau tiga orang saksi. Bila pendeta disingkirkan atau meninggal (karena mati syahid atau lainnya), maka orang lain harus langsung diangkat untuk menggantikannya agar umat gembalaan Allah tidak musnah.
    • Mereka tidak boleh mengucapkan sumpah, karena kata-katanya harus tegas, ya atau tidak.

    PERKEMBANGAN DI DUNIA
    Saat ini dari kelompok abad ke-16 tersebut yang masih tertinggal adalah kaum Amish, Hutterit, Mennonit, Gereja Persaudaraan, Persaudaraan Kristen, dan beberapa variasi Gereja Baptis Jerman lainnya. Lebih lanjut, mereka juga berkontribusi terhadap kemunculan atau perkembangan gerakan-gerakan di Britania, terutama kaum Independen, Baptis, dan Quaker. Melalui kaum-kaum ini, terutama dua yang pertama, wajah kekristenan pada abad ke-18 dan ke-19 akan dipengaruhi secara besar-besaran.

    Kaum Menonit merupakan yang terbanyak, namun bahkan di antara mereka tidak bersatu dalam suatu persekutuan bersama melainkan berbeda-beda sendiri di antara mereka. Satu cabang, kaum Amish, yang memperoleh namanya dari Jacob Ammann, dari akhir abad ke-17, berusaha untuk kembali ke hidup yang lebih disiplin lagi. Kaum Hutterit, atau Persaudaraan Hutterit, dari Jacob Hutter, yang disiksa dan dibakar pada 1536, selama bergenerasi-generasi mempraktekkan sebuah komunitas berdasarkan barang-barang. Berbasis di Moravia, mereka sangat menderita dalam Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648). Sisa-sisa mereka mencari perlindungan di Hungaria. Pada akhir abad ke-18 banyak dari mereka yang mendiami Rusia Selatan, yang menyambut mereka karena keuletan dan kegigihan mereka.

    Didorong oleh penganiayaan dan penolakan untuk mengangkat senjata membela diri, kaum Mennonit tersebar ke mana-mana. Pada abad ke-17 banyak dari kaum Mennonit Swiss, didesak oleh penganiayaan, terutama di Bern dan Zürich, mendapatkan tempat tinggal di Palatinate. Pada akhir abad ke-18 di bawah kepemimpinan Katarina Agung yang berkerohanian skeptis, banyak dari mereka yang pindah ke Rusia Selatan, tertarik akan janji tanah yang bebas dan kebebasan dari membayar pajak selama beberapa kurun waktu. Sebagian dari mereka juga mendiami Amerika Utara dan Selatan, terutama di Amerika Serikat.

    Sekelompok orang yang memiliki prinsip-prinsip Anabaptis namun yang sejarahnya berbeda dengan mereka adalah Gereja Persaudaraan atau Taufers. Pendirinya adalah Alexander Mack. Pembentukannya dapat dibilang terjadi pada tahun 1708 ketika delapan pria dan wanita yang tergerak karena gerakan Pietisme, dan ingin menjadikan Perjanjian Baru sebagai satu-satunya hukum dan petunjuk hidup mereka, dibaptiskan di Sungai Eder. Pusat-pusat awal mereka adalah Schwarzenau, Palatinate, dan Marienborn. Memasuki 1750, beberapa kelompok yang digerakkan karena penganiayaan, mencari perlindungan di Pennsylvania yang toleran.

    Dalam kurun waktu sejarah mereka, kaum Mennonit dan keturunan kaum Anabaptis yang lain menjadi kelompok yang hanya memperoleh anggota baru melalui kelahiran. Pada awalnya merupakan pengabar Injil yang berkobar-kobar, penganiayaan telah membuat mereka semakin menarik diri dan menambahkan jumlah anggota mereka melalui kelahiran bukan pertobatan. Di beberapa tempat, terutama di Belanda, mereka menjadi sukses dan tidak lagi menganut pasifisme. Di tempat lainnya, mereka tetap memegang teguh keyakinan dan cara hidup historis mereka.

    JALAN MASUK KE INDONESIA
    Gerakan Anabaptis, khususnya Aliran Mennonit masuk Indonesia melalui lembaga pekabaran Injil dari Belanda yang bernama Doopsgezinde Zending Vereeniging (DZV). DZV bekerja di Jawa Tengah utara bagian timur. Hasil pekerjaannya antara lain GITJ (Gereja Injili di Tanah Jawa) yang berpusat di Pati dan PGKMI (Persekutuan Gereja Kristen Muria Indonesia) yang berpusat di Semarang. DZV juga bekerja di Irian Jaya (Papua) yang kemudian bergabung dengan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya (GKI Irja/GKI Papua).

    PERKEMBANGAN DI INDONESIA
    Di Indonesia, Gereja-gereja yang menganut teologi Menonit adalah Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) yang kantor Sinodenya berada di Kudus, Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) yang kantor pusatnya berada di Pati, dan Jemaat Kristen Indonesia (JKI).

    INSTITUSI DAN ORGANISASI

    NASIONAL
    * Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI)
    * Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ)
    * Jemaat Kristen Indonesia (JKI)

    INTERNASIONAL

    Abecedarian (punah)

    * Amish
    Amish Beachy
    o Amish Nebraska
    o Amish Orde Lama
    o Amish Swartzendruber

    Hutterite
    Komunitas Bruderhof

    Mennonit
    Aliansi Jemaat -Jemaat Mennonit Injili
    o Perhimpunan Anabaptis Australia dan Selandia Baru
    o Brethren in Christ (Saudara -saudara dalam Kristus)
    o Konferensi Mennonit Chortitzer
    o Mennonit Holdeman (Gereja Allah di dalam Kristus, Mennonit )
    o Konferensi Mennonit Konservatif
    o Gereja Mennonit Injili
    o Konferensi Mennonit Injili
    o Konferensi Misi Mennonit Injili
    o Persekutuan Gereja-gereja Alkitab Injili (sebelumnya, Brethren Mennonit Injili)
    o Gereja -gereja Brethren Mennonit

    + Konferensi Kanada Gereja-gereja Brethren Mennonit
    + Konferensi Brethren Mennonit Jepang
    + Konferensi Gereja-gereja Brethren Mennonit AS

    Gereja Mennonit Kanada
    o Gereja di Mennonit Belanda
    o Gereja Mennonit AS
    o Mennonit Orde Lama
    o Konferensi Mennonit Swiss

    Sumber Pustaka:

    http://www.religionfacts.com/christianity/denominations/amish.htm
    http://id.wikipedia.org/wiki/Anabaptis
    http://id.wikipedia.org/wiki/Amish
    http://id.wikipedia.org/wiki/Mennonit
    http://gbiasemarang.blogspot.com/2009/01/asal-usul-jemaat-gereja-anabaptis.html

    (2010 Tim PPGI)

  • %d blogger menyukai ini: